Cerita Nagasakti
Nov 28, 2008 by Kurniawan
Menguak Mitologi Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat Kiai Sakti Menaklukkan Ular Naga
Entah mengapa kampung kecil di sebuah lembah Desa Neglasari, Kecamatan Selawu, Tasikmalaya itu disebut Kampung Naga. Tak ada referensi yang mengungkap asal-usul nama itu. Para sepuh, baik pakuncen maupun punduk kampung juga tak mengetahui mengapa kampung kecil itu persis dengan nama ular raksasa. Mereka hanya paham soal adat dan pepali karuhun-nya yang terkenal dengan Sembah Dalem Singaparna.
SEMULA, memang ada buku kuno berbahasa Sunda kuno. Tahun 1927, buku yang belum banyak dipelajari itu dibawa oleh pemerintah Belanda dan dibawa ke Batavia. Namun sampai kini tak dikembalikan. Ada juga barang-barang peninggalan sejarah yang mestinya bisa digunakan untuk mengkaji lebih dalam nilai-nilai metafisika dan sejarah mereka. Namun, semuanya lenyap setelah tahun 1956 pasukan DI/TII yang dipimpin Kartosuwiryo membumihanguskan kampung itu. Satu-satunya benda yang tertinggal adalah sebilah keris dari kuningan. Ternyata, itupun hanya duplikat.
Bukan hanya soal nama, tentang asal-usul mereka pun masih juga terjadi beda pendapat. Ada yang mengatakan nenek moyang mereka adalah seorang prajurit Mataram yang enggan pulang ke negaranya karena kalah perang. Yakni, ketika pasukan Mataram gagal menaklukkan kompeni (Belanda) di Batavia tahun 1916. Kemudian, membangun perkampungan yang kini terkenal dengan sebutan kampung Naga itu. Pendapat ini didasarkan kenyataan bahwa sekitar 40 km, tepatnya di daerah Cangkuang ada kampung yang semua penduduknya keturunan prajurit Mataram.
Kerajaan Galuh Pasundan
Namun, pendapat ini mendapat penolakan. Terutama dari masyarakat Kampung Naga sendiri. Menurut mereka, penduduk asli Kampung Naga merupakan keturunan asli suku Sunda. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Kerajaan Galuh Pasundan. Sebelum membangun pekampungan di lembah subur Desa Neglasari mereka tinggal di lereng-lereng Gunung Galunggung.
Ketika itu, mereka masih primitif dan tinggal di atas pohon-pohon besar untuk menghindari serangan binatang-binatang buas seperti singa dan sebagainya. Karena itu, seperti yang terlihat sekarang, rumah mereka selalu terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Mesti tidak tinggi seperti rumah panggung umumnya, namun lantai mereka selalu terbuat dari papan dan berada sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Di bawah lantai rumah itu, dipelihara berbagai jenis binatang ternak. Utamanya ayam.
Sedang untuk ternak-tenak besar seperti kerbau dan lembu dipelihara di tempat terpisah. Yakni di depan perkampungan sebelah kiri dekat dengan dua kolam massa yang sejak dulu tak pernah berubah. Mana yang benar? Pengakuan warga Kampung Nagalah yang rupanya layak dipercaya. Itu jika dikaitkan dengan kenyataan sejarah bahwa hubungan antara masyarakat Tasikmalaya dengan Galunggung begitu erat. Bahkan hubungan itu sudah terjalin sejak berabad-abad yang lampau.
Terbukti dari referensi yang ditemukan tim sejarah yang diberi tugas untuk menentukan hari jadi Kabupaten Tasikmalaya. Kesimpulannya, sangat sulit mencari ketidakharmonisan budaya antara masyarakat Tasikmalaya dengan gunung yang terkenal dengan letusannya pada April 1982 itu. Tentu, hubungan tersebut menjadi makin kental jika pembahasaan jika dilakukan dengan kajian metafisis.
Menurut Suharjo, penduduk asli Kampung Naga memang orang Sunda. Nenek moyang mereka yang kini dimakamkan di bukit sebelah Barat kampung bernama Sembah Dalem Singaparna. Dinamakan Singaparna karena ia dapat menaklukkan singa yang sedang mengamuk dengan kesaktiannya. Namun Singaparna lebih dikenal sebagai seorang ulama sakti.
Ia memiliki 6 anak laki-laki yang kesemuanya diwarisi ilmu linuwih. Pertama, RD Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti. Tokoh yang ini dikenal dengan ilmu kebal yang diwarisi dari Sembah Dalem Singaparna. Setelah meninggal, dia dimakamkan di daerah Teraju, Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian, Ratul Incung Kudratullah. Ia dimakamkan di Karangmanunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Lebih dikenal dengan Eyang Mudik Batara Karang karena mewarisi kebedasaan (kekuatan fisik yang luar biasa).
Ketiga, Pangeran Mangku Bawang. Ia mewarisi kekayaan duniawi. Dimakamkan di Mataram (Yogyakarta). Berikutnya adalah, Sunan Gunung Kalijaga. Dimakamkan di daerah Cirebon. Ia mengembangkan agama Islam di wilayah ini dengan pendekatan masyarakat agraris kerana ia mewarisi ilmu pertanian yang luar biasa. Kelima, adalah Sunan Gunung Komara, Ia diwarisi kepandaian dan kejujuran. Kemudian, Sunan Gunung Komara menyebarkan agama Islam di Banten dan meninggal di sana. Makamnya kini berada di daerah Banten.
SEMULA, memang ada buku kuno berbahasa Sunda kuno. Tahun 1927, buku yang belum banyak dipelajari itu dibawa oleh pemerintah Belanda dan dibawa ke Batavia. Namun sampai kini tak dikembalikan. Ada juga barang-barang peninggalan sejarah yang mestinya bisa digunakan untuk mengkaji lebih dalam nilai-nilai metafisika dan sejarah mereka. Namun, semuanya lenyap setelah tahun 1956 pasukan DI/TII yang dipimpin Kartosuwiryo membumihanguskan kampung itu. Satu-satunya benda yang tertinggal adalah sebilah keris dari kuningan. Ternyata, itupun hanya duplikat.
Bukan hanya soal nama, tentang asal-usul mereka pun masih juga terjadi beda pendapat. Ada yang mengatakan nenek moyang mereka adalah seorang prajurit Mataram yang enggan pulang ke negaranya karena kalah perang. Yakni, ketika pasukan Mataram gagal menaklukkan kompeni (Belanda) di Batavia tahun 1916. Kemudian, membangun perkampungan yang kini terkenal dengan sebutan kampung Naga itu. Pendapat ini didasarkan kenyataan bahwa sekitar 40 km, tepatnya di daerah Cangkuang ada kampung yang semua penduduknya keturunan prajurit Mataram.
Kerajaan Galuh Pasundan
Namun, pendapat ini mendapat penolakan. Terutama dari masyarakat Kampung Naga sendiri. Menurut mereka, penduduk asli Kampung Naga merupakan keturunan asli suku Sunda. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Kerajaan Galuh Pasundan. Sebelum membangun pekampungan di lembah subur Desa Neglasari mereka tinggal di lereng-lereng Gunung Galunggung.
Ketika itu, mereka masih primitif dan tinggal di atas pohon-pohon besar untuk menghindari serangan binatang-binatang buas seperti singa dan sebagainya. Karena itu, seperti yang terlihat sekarang, rumah mereka selalu terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Mesti tidak tinggi seperti rumah panggung umumnya, namun lantai mereka selalu terbuat dari papan dan berada sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Di bawah lantai rumah itu, dipelihara berbagai jenis binatang ternak. Utamanya ayam.
Sedang untuk ternak-tenak besar seperti kerbau dan lembu dipelihara di tempat terpisah. Yakni di depan perkampungan sebelah kiri dekat dengan dua kolam massa yang sejak dulu tak pernah berubah. Mana yang benar? Pengakuan warga Kampung Nagalah yang rupanya layak dipercaya. Itu jika dikaitkan dengan kenyataan sejarah bahwa hubungan antara masyarakat Tasikmalaya dengan Galunggung begitu erat. Bahkan hubungan itu sudah terjalin sejak berabad-abad yang lampau.
Terbukti dari referensi yang ditemukan tim sejarah yang diberi tugas untuk menentukan hari jadi Kabupaten Tasikmalaya. Kesimpulannya, sangat sulit mencari ketidakharmonisan budaya antara masyarakat Tasikmalaya dengan gunung yang terkenal dengan letusannya pada April 1982 itu. Tentu, hubungan tersebut menjadi makin kental jika pembahasaan jika dilakukan dengan kajian metafisis.
Menurut Suharjo, penduduk asli Kampung Naga memang orang Sunda. Nenek moyang mereka yang kini dimakamkan di bukit sebelah Barat kampung bernama Sembah Dalem Singaparna. Dinamakan Singaparna karena ia dapat menaklukkan singa yang sedang mengamuk dengan kesaktiannya. Namun Singaparna lebih dikenal sebagai seorang ulama sakti.
Ia memiliki 6 anak laki-laki yang kesemuanya diwarisi ilmu linuwih. Pertama, RD Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti. Tokoh yang ini dikenal dengan ilmu kebal yang diwarisi dari Sembah Dalem Singaparna. Setelah meninggal, dia dimakamkan di daerah Teraju, Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian, Ratul Incung Kudratullah. Ia dimakamkan di Karangmanunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Lebih dikenal dengan Eyang Mudik Batara Karang karena mewarisi kebedasaan (kekuatan fisik yang luar biasa).
Ketiga, Pangeran Mangku Bawang. Ia mewarisi kekayaan duniawi. Dimakamkan di Mataram (Yogyakarta). Berikutnya adalah, Sunan Gunung Kalijaga. Dimakamkan di daerah Cirebon. Ia mengembangkan agama Islam di wilayah ini dengan pendekatan masyarakat agraris kerana ia mewarisi ilmu pertanian yang luar biasa. Kelima, adalah Sunan Gunung Komara, Ia diwarisi kepandaian dan kejujuran. Kemudian, Sunan Gunung Komara menyebarkan agama Islam di Banten dan meninggal di sana. Makamnya kini berada di daerah Banten.
blog comments powered by Disqus