Meruvian News

Mahasiswa Kesulitan Magang, Perusahaan Perlu Tingkatkan Kepedulian

Sep 21, 2009 by Frans Thamura

Jakarta, Kompas - Dukungan perusahaan- perusahaan besar dalam peningkatan mutu lulusan perguruan tinggi masih rendah. Hal ini terlihat dari minimnya perusahaan yang bersedia menerima mahasiswa dalam program magang atau praktik kerja untuk memberi pengalaman mahasiswa.

Baru sekitar 25 perusahaan atau industri besar sejak tahun 1997 hingga sekarang yang mendukung program cooperative academic education (co-op) yang dikembangkan Departemen Pendidikan Nasional sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi.

Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, di Jakarta, Jumat (18/9), mengatakan, ada kendala untuk menerima mahasiswa bekerja di perusahaan karena umumnya mahasiswa tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Akibatnya, sumber daya perusahaan terkuras untuk pelatihan mahasiswa yang magang.

”Program co-op beda dengan magang biasa. Dalam program ini, mahasiswa bekerja sesuai kebutuhan nyata dunia kerja selama 3-6 bulan. Mahasiswa pun diseleksi perguruan tinggi dan perusahaan,” kata Fasli Jalal.

Agar program ini terus berjalan dan bisa berkembang, lanjut Fasli, penyiapan mahasiswa nantinya akan dilakukan di perguruan tinggi dengan dukungan dana dari Depdiknas. Dengan demikian, lulusan program ini punya daya saing di pasar kerja.

Melirik usaha menengah

Terbatasnya dukungan perusahaan menyebabkan hanya sekitar 50-70 mahasiswa yang mengikuti program ini setiap tahunnya. Oleh karena itu, agar program bisa tetap berjalan, Depdiknas mulai melirik usaha kecil dan menengah (UKM).

Program co-op di perusahaan UKM itu mampu meningkatkan jumlah mahasiswa yang bekerja secara nyata di perusahaan. Mahasiswa yang ikut dalam program itu dilatih terlebih dahulu sebagai bagian kesepakatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas dengan Kantor Deputi Sumber Daya Manusia Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM.

Hingga tahun lalu sebanyak 647 UKM terlibat. Mahasiswa yang bisa mengikuti program itu mencapai 1.800 orang dari 32 perguruan tinggi.

Keterlibatan mahasiswa dalam program co-op UKM itu justru menantang mahasiswa untuk bisa mengembangkan perusahaan UKM tersebut, yang umumnya masih terbatas dari segi permodalan. Bahkan, mahasiwa diharapkan bisa belajar berwirausaha, mengembangkan kreativitas, dan memiliki daya juang tinggi atau tidak putus asa.

Rizky Wisnoentoro, Koordinator Pusat Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations, Jakarta, yang tengah studi soal tanggung jawab sosial perusahaan, mengatakan, kesadaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan, seharusnya bisa tumbuh di setiap perusahaan besar dan kecil di Indonesia. ”Kesadaran itu harus terus ditumbuhkan,” kata Rizky. (ELN)

Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/19/04370095/mahasiswa.kesulitan.magang





Post a Comment:
  • HTML Syntax: Allowed

Search

 

« March 2010
SunMonTueWedThuFriSat
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
   
       
Today

Feeds

Navigation