Andai SBY Seperti Obama

05:02PM Jun 04, 2009 in category Politics by leois kt

aat Pilpres Amerika Serikat, John McCain paling hobi menyerang saingannya, Barack Obama, dari berbagai sudut. Namun Obama menunjukkan kematangan politiknya, menjawab ejekan McCain dengan program kerja. Dengan banyaknya isu yang menerjang, bisakah SBY seperti Obama? Sebagai capres incumbent, sudah pasti SBY menjadi sasaran tembak para kompetitornya. Apalagi jelang kampanye Pilpres 2 Juni 2009. Makin digosok, isu makin panas. Lidah tim sukses Pilpres pun akan makin gesit untuk saling serang dan membela jagoannya. Isu neoliberalisme, pasangan nusantara, jilbab loro, lebih cepat lebih baik, ternyata membuat resah SBY dan para tim suksesnya. Jika jubir SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng sampai reaktif menyerang personal lawan, SBY lebih santun. Dia meminta tim suksesnya untuk melawan 12 isu yang dianggapnya penting. "Ada 12 isu aktual yang musti kita respons dengan baik. Namun cara meresponsnya, saya mengajak dengan cara yang santun. Apapun isu yang menyerang, kita tangapi dengan rasional tepat dan tidak terlalu emosional." Hal itu dikatakan SBY di hadapan sekitar 3 ribu orang peserta silaturahmi nasional koalisi Demokrat. Satu per satu SBY menyebutkan 12 isu yang dinilai malah menunjukkan keresahannya. Berada di nomor atas adalah politik simbol dan politik SARA. Kedua isu dianggap perang ideologi, ketiga isu neolib, keempat ekonomi kerakyatan versus neolib, Kelima isu wawasan kebangsaan dan pluralisme. Selajutnya isu yang harus ditangkal ala SBY adalah capres yang bisa memimpin atau capres dengan memakai identitas tertentu. Ketujuh pertumbuhan ekonomi, delapan utang luar negeri, sembilan anggaran pertanian, kesepuluh pembangunan infrastruktur, kesebelas tata kelola pemerintahan. Untuk yang terakhir ini, sudah jelas ditujukan kepada siapa. SBY ingin isu cepat-cepatan dan tepat-tepatan ditangkal, sebab dia sudah tidak mau memperpanjang. Mengapa SBY sampai mengeluarkan fatwa tersebut? SBY secara terus terang menyatakan kekhawatirannya, rakyat akan percaya dengan berbagai isu yang dilemparkan lawannya. Jika sudah begitu, citranyalah yang terancam. Langkah SBY yang baru sekarang mau meng- counter isu-isu tersebut dinilai telat oleh pengamat politik UI Abdul Gafur Sangadji. Isu-isu yang meresahkannya seperti neolib sudah terlanjur menebar, bahkan sebelum deklarasi bersama Boediono. "Saya melihatnya SBY terlalu hati-hati dalam mengambil langkah-langkah politik, orientasinya hanya pada popularitasnya," cetus Gafur. Karena telat, seharusnya SBY tidak perlu mengeluarkan fatwa tersebut. Pengamat politik LIPI Siti Zuhro berharap seharusnya SBY bisa se-cool Barack Obama yang menjadi 'panutannya' selama ini. "Berlakulah seperti kala McCain selalu menyerang Obama, tapi Obama tidak membalas serangan dari McCain. Ini kan pencapresan," ujar Siti. Ibarat kata, anjing menggonggong kafilah berlalu. Isu yang dilancarkan lawan SBY, seperti neoliberalisme, menurut Siti tidak dimengerti rakyat Indonesia. Rakyat tahunya SBY berpihak pada rakyat dengan program BLT-nya. Tentunya akan lebih baik jika SBY tidak meng-counter isu-isu yang telah meresahkannya. SBY maupun timnya sejatinya menjawab dengan program kerja yang nyata, dan target yang jelas langsung mengena kepada rakyat. Sehingga publik memang menonton adanya konsistensi ucapan politik santun dengan perbuatan yang dilakukan pihak incumbent. Dengan begitu, rakyat bisa melihat SBY sebagai presiden yang memiliki kesantunan, sementara lawan politik yang menyerangnya mendapat citra sebaliknya. Pamor tidak turun, dan SBY semakin dicinta rakyat. Bukankah Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun? Jadi, untuk apa panik dan reaktif! [L4]

Comments[0]

Comments:

Post a Comment:
  • HTML Syntax: Allowed