Uang diantara "Link and Match", efek Dosen berbisnis dan Pengusaha Pemeras... Pemerintah konspirator.

Posted on 17 May 2011 by Frans Thamura

Sudah berapa tahun ini saya berhubungan dengan "link and match", berita yang menarik saat poltek-pemda, ini sebutan poltek baru dipropinsi, ada 30-an, dan ada 3 yang berJava, dan pak irwan karim, bilang wah dah ada 3, tapi setelah ditelurusin, ternyata 3 poltek ini pernah mengirim dosennya belajar ke Meruvian, dan kita sedang proses poltek ke-4, yang notabene dikepalai anak magang saya.

Kemarin saya ditelp dg Pak Lucky Esa, telp mengenai banyak hal mengenai kewirausahaan, khususnya etika bisnis, mengenai ITB, yang konon sedang bebersih (can we trust ITB for this?), mengenai dosen berbisnis, yang katanya harus pilih, mau jadi dosen yah dosen, mau bisnis yah bisnis, kalau mau ngajar, jangan jadi dosen tetap, selipetan saja. Seru juga nama dosen senior jadi kata-kata nostalgia.

Disisi lain, disisi perusahaan, ini ada beberapa kasus yang menarik.

1. Susahnya mencari SDM

Susahnya mencari SDM ini sudah jadi masalah nasional, mulai cari pembantu yang bisa kerja (saya baru saja pecat pembantu yang kerjanya gak bersih, dapat yang bersih, menyalahkan mesin cuci saja dg 2 tombol dah 3 minggu training gak bisa-bisa, gak tahu isi kepalanya apa, terus dimarahin, ini tekan ini saja, masa gak bisa, marah, terus setelah gajian ngilang..). susah cari programmer Java, itu adalah masalah klasik, ide awal buat JUG Indonesia kan adalah untuk mengisi lowongan PT Intercitra yang saya nahkodai. Ternyata susahnya sampai hari ini tidak terpecahkan, but Meruvian. ciakakakak.. 

Lucunya saya mengajak beberapa perusahaan sampai vendor yang sangat Java, ke area ini,mengelola SDM, mereka malah maunya duit doang, dan gak sadar sudah 8 tahun berlalu.

Jadi inget tips saya ke teman saya (sama-sama sekantor), yang sudah 10 tahun, perusahaannya dah jadi market leader bro, dia mau 3 bulan implementasi sistem TI, tapi dah 1 th gak jalan, gak ada orang, saya ajukan program Meruvian, 3 bulan supply dijamin kelebihan. Wah lama.. gila kan pengusaha short term abis. 

Dan kasus perusahaan short term terjadi disemua vendor , sebut lah warna merah, biru, hijau, dan tularan sampai ke usernya sebut bank warna biru, merah, hijau, kuning, sampai kombinasi biru merah, semua saya dah datangin. Malah ini perusaaah telco warna merah, minta supply kelipatan 5 dg jaminan 1 tahun cash in advance.. u know whom lar. Yang menarik 9 GM telah meeting dg saya, dan minta 5 telco ini via satu partner-nya yang juga kebetulan ownernya teman saya.

Lucu kan, sudah tahu dimana supplynya masih minta perusahaan rekanan.

Kasus lebih menarik mengenai ini di bank warna biru, seorang Manager dg jelas, sorry bro, semua procurement musti lewat perusahaan Q, lagian lo ngapain kesini, kita dah ada semua. Tapi.. teriak2 saat rekrutment 500 calon programmer, diterima 6 orang, terus sisa 1 saja setelah 1 tahun, dan akhrinya kerjaan ini diberikan ke PT As, dan sang owner PT As, juga my friend, asking to supply to him. The contact person of bank biru ini ketemu dg saya lo di 2007 di JavaONE.

2. Pemerintah yang bukan Pembina

Kasus Pemerintah buruk, sepertinya tahun ini menyengit habis masuk ke sumsum, kalau kita tilik result kerja, terutama yang pernah bersentuhan dengan pemerintah, pasti menyetujuinya, show me the s*** that prove they work in our way. Tentu saja kita kan pelanggannya, dan kepuasan itu di pelanggannya, they are using our money right...!!!...

nah kasus Pemerintah ini Pembina, ini menonjol, terutama saat ada seminar oleh pemerintah, saya langsung aja deh, kasusnya kementerian perindustrian, dg direktur baru pak Syarif, dan pak benny ranti yang baru jadi Ketua Telematika KADIN, presentasi, ternyata banyak outstanding simple sejak 2007 tidak dijalankan kementerian ini. 

Saya sejak diajak meeting urusan study banding negara lain.. :) u know what this for..

nah ini slidenya untuk menguatkan tulisan ini..slide kadin..

 

 Dan ini surat beberapa asosiasi yang mandek gak jelas juntrunganya.. ke diknas.. ke mana.. pasti berjubelan.. ternyata surat seperti ini ke dirjen sudah sangat sering terjadi.. kok bisa.. hal penting diketekin. hal yang gak penting dikerjakan... ciakakak.. ada ide link ini dg FPI? my fans..

 

Coba ditilik lebih jauh, ternyata masalah negara ini sudah jelas, dan ada yang commited bekerja untuk membuat ini berkurang, dan kenapa masih jadi momok, dan pengangguran masih tinggi, dg bangga satu kota penghasil padi jawa barat, lumbung padinya jabar deh, mengatakan 20% kerja sesuai jurusan, dan sisanya kerja di pabrik, karena banyak pabrik. SMK buat buruh itu jadi program utam a negara ini, pemerintah tidak memberikan mind mengenai bahwa anak kita ini bukan babu atau buruh atau penjaga toko. but they create them like that, dan under our own money yang total 20% urusan dengan pendidikan. Malah kasus ini diperkuat dg dana 1 miliar untuk yang UNnya jeblok. Jadi yang gak performance itu yg dapat uang yah.

Seru kan, dunia intermediasi internet masih tetap dilawan.. sampai berapa lama ini terjadi? Padahal nilai ekonomi kalau diganti jadi circle linked ini jauh lebih dahsyat diera globalisasi. Mengapa masih mencoba cara model tradisional, seperti kasus telco warna merah ke vendor, terus vendor ke partnernya (dan tidak sedikit partnernya ini perusahaannya milik sang pegawai vendor), terus partnernya itu contact ke yang kerja bener, yang lucu para pegawai telco ini kenal dg yang kerja bener..

Saya post deh gambar dibawah ini.

Share |

Donate

View Frans Thamura's profile on LinkedIn

Frans Thamura

Entities

Newsfeed