Solusi Agnostic sebagai Solusi Masa Depan yg Cooperative
Sudah 1 bulan lebih saya mendalami kata Agnostic, sebuah kata yang lagi naik daun di internal kita. Sebuah kata baru yang lebih menjual bagi saya terhadap solusi yang kita buat. Sebuah paradigma yang lebih netral terjadi setelah memahami kata ini. Percaya tidak percaya, kata agnostic dikepala saya ini dimulai dari diskusi Portabilitas dan Platform dengan Tony Seno, NTOnya Microsoft. Kita memiliki background yang counter aksi secara hidup.
Tony Seno adalah orang yang "sukses" gara-gara Cisco, yang sedikit banyak menjelaskan gimana "berbursa" di cisco selama 13 tahun karirnya. Blog Tony juga sangat anti Microsoft, mimpinya no Microsoft didalam perusahaan, coba deh baca blog sebelum beliau join Microsoft (dan idenya migrasi ke Linux), dan sekarang tugasnya membuat MS Windows sebagai strategic platform for anything. Tanya sendiri deh biar jelasnya.
Sedangkan saya adalah Microsoft maniak (sejak 1992-2001), yang jadi anti Microsoft product. Tentu saja alasannya kecewa dengan manajemen Microsoft terutama dg tidak ada versi berikutnya dari VB6, dan pemaksaan ke .NET. Kemudian karena kecelakaan membuat JUG Indonesia, yang awalnya pasar kerja untuk mengisi pegawai Intercitra.
Agnostic ini sering dihubung-hubungkan dengan kata Atheis (tidak berTuhan), dimana aliran agnostic ini disebut Agnosticism. Sedangkan kata Agnostic dipopulerkan oleh Thomas Henry Huxley abad 18.
Persepsi Agnostic mungkin bagi pihak yang berhubungan dengan Java, karena sifat portabilitasnya dan independencynya, merupakan hal umum dan biasa, seperti bagaimana membuat solusi yang tidak terikat vendor, jalan di Weblogic dari Oracle, Tomcat dari Apache, JBoss dari RedHat atau Websphere dari IBM. Dengan posisi Agnostic ini, kita menjadi bersifat cooperative dengan vendor penyedia container yang disebutkan diatas. Bayangkan solusi kita plus Tomcat terhadap solusi Weblogic, kita saingan atau rekanan. Juga solusi kita jalan diatas Sun Java vs Oracle JRockit, ini saingan atau rekanan.
Saya melihat secara kasus, Google, Yahoo dan Amazon, yang dianggap sebagai empunya Internet merupakan sebuah entitas yang super agnostic, malah lebih cenderung mengembangkan sendiri. Tapi kalau kita lihat IBM, Sun, Oracle, Microsoft dan semua vendor yang tahan persaingan semuanya agnostic. Mereka tidak mau tergantung dengan sebuah produk buatan orang lain. Dengan reposisi solusi agnotic ini, membuat kerja sama menjadi cooperative.
Umumnya solusi agnostic ini lebih cooperative, contoh Java yang jalan di Windows dan Linux dan Solaris, ini artinya Java ini agnostic terhadap sistem operasi. Java membuat persaingan sistem operasi tidak absah. Mungkin orang yang berkecimpung di PHP, Java, Ruby atau Python sudah agnostic semua. Alhasil teknologi tersebut membuat pengembang solusi diatasnya menjadi solusi yang lebih independent atau agnostic terhadap platform yang menjalankannya.
Strategi bersifat Agnostic ini juga yang membuat lisensi GPL tidak jadi absah, contoh Oracle database berjalan di Linux dan Windows. Sebuah breaking point baik terhadap solusi opensource dan propietary kan.
Sifat agnostic ini membuat kita menjadi lebih siap bersaing dan tentu saja lebih independent. Tetapi tentu saja membuat mereka yang "biasa" meminta budget marketing dari vendor, sekarang harus mencari budget sendiri, atau membuat sebuah program exclusive bundling.
Contoh exclusive bundling yang akan mendobrak adalah HP Oracle Exadata. HP Proliant yang murah meriah, dikasih interband, terus dimasukan Oracle Linux plus Oracle database. Saya melihat ini 3 solusi agnostic dalam satu bundle. Proliant jalan Intel X86 (standard terbuka, wong proliant pake AMD, VIA), Oracle Linux jalan di x86 (windows juga bisa jalan di x86 kan), dan Oracle Database (jalan di Windows, Linux, Solaris).
Terkadang independensi ini membuat client lebih "lock" ke pemberi solusi daripada solusi pendukungnya (platform), dan kecenderungan platform mensponsori program masih sangat tinggi diseluruh dunia, model ini tentu saja merupakan pendobrakan.
Apakah anda siap? Sebagai pengambil keputusan yang bijaksana tentu akan mendukung bukan?


