Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Private Content ala BBM dan Apple.. tapi.. SDK?

Aug 02, 2010 by Frans Thamura

Beberapa waktu ini saya rajin banget ketemu dengan vendor hp merk lokal, dan mulai mendapatkan banyak informasi dengan adanya JavaME di dalamnya, dan beberapa mulai mengeluarkan Android phone dalam seri produknya.

Sayang sekali untuk telp genggam lokal ini sepertinya masih didrive oleh perusahaan chip besar dan jiwa pedagang didalamnya, sehingga coba ke webnya, mulai dari Nexian, Skybee, IMO, sampai ht, semuanya gak menjelaskan teknis spesifikasi dari produk mereka. Bandingkan dengan Nokia Forum yang menjelaskan API dari telpnya, dan sepertinya para manager marketing yang mungkin ditekan sales daripada branding, harus belajar isinya telp mereka. Malah belum menemukan SDK khusus dengan emulator di webnya, malah tidak ditemukan satu web pun yang memberikan informasi bagaimana memasukan telepon mereka, sebuah aplikasi yang kita kembangkan.

Malah yang menarik Skybee milik trikomsel, salah satu distributor HP merek lain, bergabung inTouch, yang dulu terkenal karena mengelola Nokia Communicator dengan produk Mobinity-nya. Saya belum mendalami ini mobinity mau jadi apa. Nexian menghadirkan Nexian Messenger. Yang saya rasa akan lahir juga model ala seperti ini, yaitu ala Apple dan BlackBerry, jadi menyiapkan semuanya mulai dari barang fisik sampai piranti lunaknya.

Booming mobile di Indonesia, sayangnya tidak paralel dengan perkembangan developer, malah masih terjadi developer yang teriak-teriak dengan karirnya, sehingga topik dimilis Futsal member JUG Indonesia di Kuala Lumpur, sehingga terlihat orang IT masih jadi generasi kelas dua diperang mobile ini. Saya ingat pesan Calvin (salah satu pemilik elasitas), yang mana kita harus dibeli, untuk bisa go global. 

Maklum Java telah jadi solusi mainstream di telepon genggam, apalagi perang antara produk yang memiliki Java, yaitu Android (menggunakan bahasa Java untuk pengembangan), BlackBerry menggunakan JavaME yang dimodifikasi digabung dengan JavaSE, dan JavaME itu sendiri yang notabene versi 3.0nya tidak ditemukan pada telepon genggam disemua telepon genggam. Apalagi sejak Sun dibeli Oracle, tidak ada kegiatan JavaME yang jelas, malah James Gosling di push untuk mengurusi Java di sisi Client, eh malah resign.

Malah kata VP Telkomsel di ICT Forum untuk Mobile, masih mengiang mata saya, mengenai keluh kesah Kemal (pemilik Better-B), serta jawabannya mengenai anak SMK yang notebene telah go ASEAN dengan JavaME. Link yang jelas antar SMK yang notabene belum diterima industri, malah masih banyak kasus mereka sulit mencari kerja, apalagi saya sendiri telah ikutan didalam SKKD, sebagai standar pendidikan SMK untuk 2011, yang oktober ini semoga pak menteri diknas meresmikannya.

Dengan model private development ala inTouch dengan Skybee, dan tanpa SDK untuk Skybee, apalagi integrasi dengan IDE, ini  berbeda jauh dengan vendor diluar yang selain memiliki pabrik chip (Apple), sampai memiliki IDE (XCode), juga terjadi di Nokia dengan Symbian.

Masukan dari teman saya, mengatakan usaha biz telp merek lokal lebih menarik, karena keuntungan yang lebih besar daripada jualan telp merk asing yang dipatok keuntungannya, apalagi telepon sejuta umat.

Tapi kalau kita lihat semuanya, mereka masih jauh dibawah Nokia, yang sedang karam, karena produknya tidak friendly, apalagi dengan trend mobile market, saya rasa semuanya nanti akan buat Nexian Market, Skybee Market, karena tekanan industri, menjadi digital mobile services. Saya tidak terbayang uang yang dibuang untuk investasi ini sebab mau lari kemanapun kontrolnya ternyata dipabrik chipnya. Hal ini terjadi untuk produk yang lebih open dikembangkan Android, yang mana infromasi membuat firmware sendiri sangat sulit, tetapi jauh lebih stabil. Penulis telah mengembangkan aplikasi di Android 2.2 dan di deploy di 1.6 ternyata bisa jalan. Maklum belum mengutilize fitur khusus Android didalamnya. Hal yang sama terjadi juga di telepon JavaME lokal, tentu saja tanpa implementasi API khusus, seperti SATSA.

Jadi pasar mobile API buatan kita-kita sepertinya masih sangat jauh, yang pasti trend konsolidasi sampai masuk bursa menjadi alasan utama, dan apakah perusahan-perusahaan ini diciptakan untuk dijual kembali?

 

Buat kita kita para developer, peperangan ini ternyata belum membuat kita jadi tertarik, dan sepertinya kedua belah pihak harus saling mengedukasi, lucu juga programmer kasih tau ke pemilik merk, eh produk Anda bisa dibuat software lo. Tapi cara distribusinya masih sangat traditional, yaitu via download dan install sendiri. Saya sedang mencari Content Provider yang membuat Marketplace ini, sebab selama satu dekade ini juga seperti badai, tumbuh dan tidak berkembang. Ditunggu mobile services yang lebih funky untuk ini semua. Mungkin ada tapi tidak sampai ke mata saya.

 

Jadi secara garis besar, para perusahaan telco juga tidak concern sama programmer, dan mobile lokal juga, semuanya masih seperti installer dan implementer. Sudah coba Sprint IDE yang merupakan extension dari Netbeans, dan juga API khusus telp keluarannya. Maklum implementasi bundle telepon dengan layanan pulsa sudah hal biasa, tapi segment ini tidak ada. 

 

Untuk pasar ideal jadinya, semua telco harus membuat IDE, dan endorse produk IDE ini ke market, hal yang dilakukan Sprint di JavaONE, atau Motorola dengan MotoIDEnya.

 

Kalau ini terjadi, selamat datang di RUSH 2.0, untuk para programmer Java, karena artinya kebutuhan programmer Java akan meningkat lagi, apalagi sekarang orang bisa Java dikit sudah dibajak, yang menarik malah yang memelihara programmer Java di Indonesia mulai go regional dan memasuki pasar, salah satunya Indonesia.

 

Ini juga kasus mental, wong pasarnya lokal, tapi kenapa harus kerja di luar negeri, yang mana perusahaan itu memasuki pasar kita juga. Aneh tapi nyata terjadi di negara ini, maklum level enterpreneurshipnya jeblok, dan pemerintahnya sangat tidak mendukung, mendukung program pemerintah seperti foya-foya penuh seremonial tanpa tujuan.

 

So, kita mau kemana setelah ini? membuat semua untuk dijual bukan untuk memimpin. 

Share |


blog comments powered by Disqus
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!





View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:



Search

 

« February 2012
SunMonTueWedThuFriSat
   
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
   
       
Today

Links

Feeds




Navigation