Power of Human Interface to Lead The World
Jun 19, 2010 by Frans Thamura
Beberapa minggu ini, saya banyak sekali diskusi mengenai pasar Android yang datang menghajar habis JavaME yang notabene adalah market leader. Yang sakti, tidak ada satupun action berarti dari team JavaME selama ini, MIDP 3.0 seperti hilang ditelan bumi. Inovasi terhenti sejak berita Sun diakusisi Oracle, dan kasus Anti Trust yang dikumandangkan oleh Uni Eropa ke Oracle prihal Sun ini.
Belum lagi serangan iPhone yang notabene sepertinya estetikanya tidak dapat dinikmati oleh manusia-manusia yang tinggal di Indonesia secara umum, hanya segelintir yang menggunakannya, dan tentu saja mereka yang di strata ekonomi atas. Apple telah terlalu lama melakukan investasi di estetika dan lifestye, dimulai dari iMac, iBook sampai iPod, sampai muncul pemakai fanatic bukan karena dia lebih hebat, tetapi dia lebih cantik. Yang lebih sakti adalah karena semua tertuang dalam User Interface sistem operasinya yang dikembangkan secara private. iPad gadungan tidak akan dapat ditemukan dipasar tanpa sistem operas iOS, belum lagi dengan prosesor yang dikembangkannya yaitu A4, walaupun Samsung memilikinya yaitu S5 yang notabene adalah kembarannya. Samsung tidak memiliki sistem operasi, kalaupun ada Bada, itu bukan iOS atau Mac. Selain itu komunitas pengembangnya tidak kuat.
Android datang sebagai segment lain dari piranti bergerak, menggalang komunitas pengembang Java kedalam Android, menendang keras JavaME menjadi pencundang dalam dunia piranti bergerak yang sudah lebih dari satu dekade dikuasainya. Mahkota JavaME hanya diarak oleh BlackBerry, tetapi hati-hati, ini JavaME yang berbeda dengan JavaME yang diciptakan. BlackBerry telah memodifikasinya, ini teknologi yang tidak jelas antara JavaSE atau JavaME atau JustBB Java. Android dan BB memasuki pasar pengembang Java yang notabene superbesar sampai 10 juta programmer, apalagi market enterprise Java telah masuk legenda, belum lagi Java telah menjadi sebuah teknologi yang paling kuat di area Cloud Computing.
Segment Pasar Java sangat luas dari pemakai personal sampai giga-hit dotcom, dan kebanggan terbesar adalah teknologi yang diolok-olok lambat, karena jalan di virtulisasi, telah menjadi default teknologi untuk apapun. Jangan kaget iPhone yang maju dengan Objective-C, ternyata juga sebuah teknologi yang mirip BlackBerry dan Android, yaitu jalan di virtualisasi, jalan di LLVM (Low Level Virtual Machine), yang ditemukan hampir disemua sistem operasi. Tetapi Apple telah menciptakan sebuah API yang membuatnya berbeda, yaitu Cocoa Framework, hal yang sama yang diciptakan BlackBerry terhadap JavaME dan Android terhadap Linux dengan Dalviknya.
Semua pihak menciptakan VALUE dari sesuatu yang mereka ciptakan, dan lead the world di areanya masing. Kenyamanan Push Mail BlackBerry tidak akan ditemukan di Android. Keindahan Human Interface iPhone tidak akan ditemukan di piranti lunak lainnya. Betul sekali, sebuah bungkus khusus diciptakan dalam pengembangan produk. Ini sebuah permainan peperangan yang lebih complex dalam mengimplementasikan Sun Tzu.
Saya termasuk orang yang sampai hari ini masih tidak mengerti mengapa saya membeli Mac, dan belum melihat value dari Mac. Wong ini propietary. Tapi ternyata saya membayarnya terlalu mahal untuk sebuah Aqua button. Sebuah segmen yang Linuxer tidak dapat lawan, sebuah services value yang tidak ada di pasar yang dimiliki oleh Windows dan Linux. Sehingga dapat dikatakan pasarnya Apple, Windows dan Linux sebenarnya berbeda. Notabene konspirasi MacOS + iPhone dg iOS + iTunes adalah sebuah karya yang semua orang harus berpikir 1000x untuk melawannya, jauh lebih lock-in daripada semua Microsoft solution yang terintegrasi.
Dari semua ini saya yakin dengan kesimpulan saya, setiap segment ini layak investasi, dan ada satu segmen yang menyambar semua area. benar itu adalah MICROSOFT. Microsoft adalah perusahaan yang menyambar semua segmen dan tidak ada niche marketnya selain Desktop, yang notabene Desktopnya juga diantara Linux yang murah dan powerfull dan MacOS yang lebih indah. Tapi hati-hati Mac dan Linux menshare teknologi bersama. Thx to BSD didalam Mac yang membuat inovasi berjalan mulus di Mac dan Linux, tapi Windows. Apakah ERA Microsoft telah hilang.
Linux dimaafkan pasarnya karena GRATIS. Mac dimaafkan karena ekslusifitasnya.
Dalam dunia globalisasi, semua diatas memiliki pasarnya sendiri. Jadi bilamana kita hanya bagian dari Indonesia, jelas kita dapat dikatakan KUDA yang telah ditutup matanya.
Saya menyimpulkan iPhone market itu kuat sekali, amazingly propietary, tapi indah yang dikumandangkan Apple secara global memiliki pasar. Jadi jelas kan mengapa Apple sekarang market capnya lebih tinggi dari Microsoft. Segment BlackBerry kuat di push mail, tetapi dengan program pemanjaan programmer yang tidak bagus, BB akan mandek, sorry dude. Android akan terus naik pasarnya, dan thx to Google yang me-release SDKnya untuk programmer lebih dulu daripada barangnya, sehingga kasta programmer di Android lebih tinggi daripada di dunia lain. Java akan terus berkumandang di area Cloud.
Yang menarik semua teknologi selain Apple punya, adalah Open System. Memang seni itu propietary, lukisan tidak bisa sama dan mahal, walaupun terkadang lukisannya dianggap sangat buruk oleh pihak lain. TApi sekarang jamannya so what gitu. Dunia So What Apple mirip dengan dunia Atheis yang dilarang dinegara ini, tetapi akan menjadi segmen tersendiri didunia Internet. no one can eliminate it. iPhone dilarang membesar oleh Telkomsel, tapi sadar dude, pasar mobile Indonesia hanya no. 4 sekitar 170-juta vs 4 miliar global. Still Chicken. Semoga blog ini menyadarkan para telco company esp mobile telco dari tidur lamanya. Sudah bukan saatnya berjalan sendiri dengan pasar yang terus terkomoditas, dan tidak membuat link program antara U and US. U will dead end like JavaME.
Saya malah melihat this new market itu lebih besar dari apapun, dan apakah stay di Indonesia dengan regulasi yang tumpang tindih adalah ideal? Yes DUDE. Message me if u want to know more.
blog comments powered by Disqus


