Pengusaha Java Sejak Awal vs Jadi Pengusaha Java setelahnya
Saya suka dengan Business Wisdom di PAS FM, walaupun sang pembicara (Tanadi Santoso). Menarik dipelajari, beliau adalah mirip dg Bubu Owner (Shinta) yang dari awal lahir dikeluarga medium up, 2-2nya saya sering track backgroundnya (kebetulan adiknya Shinta saya kenal, karena pernah sekantor), mereka semua keluaran luar negeri gitu.
Mereka lahir sebagai upper class people, terutama untuk orang Indonesia secara average (inget 55juta orang indonesia itu tidak mampu).
Saya sempat membandingkan dengan saya, dimana saya ini dapat sedikit berkat dari atas, sebab pas pendaftaran di Trisakti yang uang pangkalnya 8 juta, papa saya sempat mendapatkan untung ayam (papa saya grower ayam broiler).
Saya baru menyadari apa yang dikerjakan Pak Tanadi ini, maklum saat Intercitra berdiri, mau saingin Sam Design, salah satu perusahaan beliau (beliau own Wearnes etc, banyak sepretinya tipikal surabaya). Tanadi Santoso ini dari awal pengusaha, gak pernah kerja, dan ini sebuah reposisi paradigma yang berbeda yang dari awal harus kerja.
Compare dengan saya, yang diomelin mama saya karena ingin minta tambahan uang 100.000, karena hidup yang berat, tetapi yang dapat omelan, yang sampai hari ini jadi trauma buat saya. Plus sindiran rekan-rekan kost saya, sebagai fanatic nasi goreng (padahal saya gak ada uang untuk beli makanan lain).
Jadi track saya setelah hari itu, terutama setelah ketemu Budiman (di Budhi Sentosa - Kaki Tiga), kerja dg Ir, Zinsari (yang terkenal dengan buku Clippernya). Saya merangkak dari seorang freelancer, data entry, urus IT satu group (Weka / Insfoil milik Pak Endi - 1992 - 1997). buat majalah computer club, sampai akhirnya tahun 2003 diberi dana untuk buat usaha yang melahirkan Intercitra. Jadi 10 tahun lamanya pindah kwartan kiosaki.
Kemarin ada beberapa diskusi, mengenai Java market, dan saya baru sadar, saya ini belum pernah jadi programmer Java, jadi dari 2003 itu buat usaha Java.
Proyek Cimande yg dibuat di sydney, juta dibuat sebagai perusahaan.
Paradigma Pengusaha dan Pekerja ini yang berbeda, sehingga melihat Java mungkin berbeda dengan rekan programmer.
Kita melihat Java sebagai sebuah alat ekonomi plus tidak ada credential Java sebelumnya ini membuat sebuah perjuangan yang menarik, dan mungkin dapat membuat pihak lain mendapatkan masukan.
Saya melihat dan malah menemukan banyak kasus yang pegawai yang bekerja sama dengan usaha bekas bosnya, dan ini terjadi sejak saya masih di Weka (1992) sampai sekarang. Apakah saah satu yang membaca blog ini segment area ini.
Model ini lebih enak, karena tinggal ambil contact dari boss, dan dijual layanan yang lebih kurang sama, atau karena sudah kenal jadi bisa digeser salesnya. Menurut saya ini bentuk sales yang gak bagus, karena gak inovatif, tidak membuat segment pasar yang baru.
Tetapi lihat saja banyak me-too company yang sukses, yang terbesar adalah Wings Group di Indonesia yang talikung Unilever dibeberapa area.
Sebenarnya ada juga pedagang yang jadi perusahaan sukses, namanya Microsoft, yang mana Bill Gates termasuk pedagang (sebab dari awal tidak menemukan teknologi, tetapi menggunakan), sampai sekarang ada .NET yang merupakan replikasi Java.
Saya melihat untuk menjadi me-too ini, plus capital tidak terbatas, dapat menciptakan sebuah market baru, tetapi saya tidak tahu me-too model ini apakah bisa menjadi market leader?? So Klin telah menjadi market leader setelah mereplicate Rinso.
Saya malah kepikiran mereplicate Microsoft dan menjadi lebih besar dari Microsoft, mungkinkah???? haha just a dream..
tapi menarik kan, coba kalau kamu berpikir ala pegawai, saat ada .NET, apa yang kamu pikirkan? membuat sesuatu melawannya atau... kalau model pengusaha, saat ada .NET cari cara, ini barang apa, berapa valuenya, dan bisa ngapain dengan barang ini, atau kalau mau saingin bisa gak yah...
Welcome to Technopreneur World..
NB: RSW baru saja memberitahu saya, 20 orang top kaya indonesia adalah yang kerja sama energi (ambil dari bumi jual), tapi di Amerika semua dari skillset, Warrent Buffet, Bill Gates, Larry Elission... banyak kan. mengapa bisa terjadi? maklum kita *saya dan Romi, sama sama technopreneur lokal....





