OpenSource Pustekom

Posted on 26 July 2008 by Frans Thamura

ini list yang pak Kwarta tulis di milis dikmenjur, mengenai IGOS Benar, sebuah commitment Pustekom terhadap OpenSource.

FYI dan silakan dicek, format timeframe ini datang dari Kementerian
Ristek, Setjen Depdiknas yang menentukan waktu implementasinya
berdasarkan pertimbangan strategis dari beberapa unit utama di
Depdiknas. 4 kementerian lainnya juga menggunakan timeframe yang sama
dengan perbedaan jumlah target pejabat dan staf yang akan menerima
sosialisasi IGOS ini.
e-mail Anda akan saya forward ke PIC IGOS di Kementerian Ristek,
karena beliau nanti yang paling kompeten untuk menjawabnya singkatnya
waktu sosialisasi dan implementasi IGOS di sebuah departemen.

Soal materi PeTIK 2008, coba kita periksa bersama:
a. Modul 01: TIK untuk Pembelajaran
b. Modul 02: Jaringan Komputer dan Pemanfaatannya
c. Modul 03: Pemanfaatan Internet dalam Pembelajaran
d. Modul 04: Pengembangan Rencana Pembelajaran yang Mengintegrasikan TIK
e. Modul 05: Strategi Pembelajaran Berbasis TIK
f. Modul 06: Pemanfaatan Televisi Edukasi (TVE)
g. Modul 07: Pemanfaatan e-dukasi.net
h. Modul 08: Pemanfaatan Multimedia Pembelajaran
i. Modul 09: Pemanfaatan Media Audio dan Radio untuk Pembelajaran
j. Modul 10: Pembuatan Media Presentasi
k. Suplemen A: Pemanfaatan Televisi Edukasi (TVE-2) Channel Guru
l. Suplemen B: Pemanfaatan Buku Sekolah Elektronik (BSE)

Nah, modul mana kira-kira yang dapat kita open source-kan?
Mohon pencerahan Pak Nasir, kita siap untuk mengarahkan para Senior
Trainer kita menyampaikan dan melatihkan modul ini kepada teman-teman
Master Trainer.

Untuk Intel Teach memang masih Microsoft based, tetapi itupun hanya
akan dilatihkan kepada 150 MT dari 4.575 MT. Sedangkan Ditjen PMPTK
sudah melatih ribuan guru melalui program Intel Teach ini sejak 2007
yang lalu.

Saya masih ingat statement Pak Nuh Menkominfo saat pre-launching UU
ITE di Depkominfo, kita tidak perlu memperdebatkan sistem operasinya,
tetapi yang perlu kita lakukan adalah bagaimana terjadinya
interoperabilitas antar sistem-sistem tersebut.

Soal habit itu betul, susah banget mengubahnya. Perlu waktu yang
panjang, contoh riil adalah soal mengalihkan pemakaian bahan bakar
minyah tanah ke bahan bakar gas. Meski telah diiklankan alias
disosialisasikan bertubi-tubi ya tetap saja balik maning nang minyak
tanah.. sama sulitnya mengajak kawan2 mempresentasikan sesuatu dengan
Impress-nya OpenOffice, bahkan tidak jarang di sekolah-sekolah masih
ada saja guru yang menerangkan 'open source' dengan PowerPoint.
Seharusnya kan total open source..

Mengubah habit tidak semudah membalik telapak tangan Pak, perlu ekstra
kesabaran dan komitmen semua pihak. Jika Jerman dapat menyadarkan
manfaat open source dan berhasil mengimplementasikannya, itu bisa jadi
karena tingkat pendidikan bangsa Jerman umumnya cukup tinggi (banyak
profesor muda berusia 36-45 tahunan) dan semangat inovasinya tinggi
(dirata-rata tiap hari ada paten baru buah inovasi & rekayasa).

Satu hal lagi, ketika Depdiknas belum ber-IGOS.. selalu ditanya-tanya
komitmen dan keseriusannya. Begitu ber-IGOS.. eh dianggap 'tebar
pesona' seperti capres-capres 2009 itu :) Oalah Pak.. hari gini tebar
pesona? kapan ya kita dewasa dan tegar menghadapi kompetensi global.
Benarlah: menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.. ;)

Yuk baca dulu Permendiknas nomor 38 tahun 2008 tentang tentang
Pengelolaan TIK di Lingkungan Depdiknas. Khususnya Bab III Pasal 6
ayat 1, 2 dan 3 ;) baru berkomentar ya?

Maaf, jangan tersinggung lho? Bukankah diskusi ini biasa dan nantinya
juga biasa-biasa (dilupakan) saja :D

Terima kasih

Kwarta Adimphrana
Pustekkom | Depdiknas

Share |

Donate

View Frans Thamura's profile on LinkedIn

Frans Thamura

Entities

Newsfeed