Frans Thamura didunia agnostic

Open Innovation berbasis Open Computing

Jan 04, 2009 by Frans Thamura

Liburan ini banyak hal baru yang didapatkan, tentu saja diluar dari mmod yang ingin istirahat total, maklum saya memasukan dalam status kerja tanpa perlu ngantor, tetapi tiap didepan komputer ada saja yang terjadi,  pundak sakit, migrain, intinya outstanding gak kedeliver... ini hal baru yang buruk.

Tetapi ada hal baru yang menarik, saya ketemu Arvino, Worxcode CEO (thx untuk starbucknya juga).  Pakar Lotus Notes lain yang saya kenal. Product unggulannya Woorknet, dan beliau pembicara OpenOffice, dan saya baru tahu productnya itu yang kita bicaraka di SIPL Kominfo, fitur yang gak ada di OpenOffice dan Alfresco, tetapi ada di Sharepoint + MS Office. Hanya saja Woorknet ini solusi mirip Alfresco yang berbasis AJAX dan dibuat dengan PHP. Saya masih belum tahu seperti apa, maklum baru ketemu 1x. He is amazing smart...

Mbah kita ini penganut Open Computing, dimana menjelaskan konsep mengenai memandang sebuah solusi Opensource sebagai platform inovasi. Konsep beliau adalah Knowledge 2.0.

Setelah bertemu dan diskusi, kebetulan saya lg tergila-gila kata Agnostic, gara-gara Tony Seno "komporin saya". Yang memunculkan solusi baru kita untuk 2009, Agnostra, sebuah mashup platform yang berbasis terbuka dan OpenSource tentu saja.

Microsoft juga sebenarnya sedang rajin promosi OpenSource, tetapi dengan konsep OpenSource on MS tech.. Aneh tapi Nyata. Jadi Open Innovation in Close Platform. Tapi yah terserah MS dong, wong dia yang punya technology dan inovasi.

Akhirnya dari semua ini saya mengambil sebuah cara pandang yang berbeda dan menurut saya lebih baik, tidak tahu menurut pihak lain, dimana pelanggan akhir akan merasa diuntungkan bilamana menggunakan Open Platform, dan bilamana platform dasarnya tidak terbuka, sebaiknya mengimplementasikan sebuah agnostic technology, umumnya menggunakan virtualisasi atau cross platform runtime. Hal ini dilakukan untuk membuat solusinya tidak terkunci pada platform terbuka itu.

Sebagai contoh adalah mengembangkan dan menjalankan aplikasi di Windows Platform, dengan menggunakan Java atau PHP atau Ruby sebagai agnostic platformnya.

Saya melihat banyak pihak yang menggunakan saja platfom terbuka ini bukan berkreasi atau berinovasi sehingga valuenya menjadi lebih unik dan memiliki nilai tambah dibandingkan just install. Pekerjaan paling bawah dari layer inovasi ini adalah integrasi tanpa modifikasi, seperti gabungkan LDAP ke PAMnya Linux, terus ke Email, terus ke Portal. Apakah Anda sudah melakukan hal seperti ini?

Kesulitan terjadi dengan kualitas output hasil pendidikan nasional yang semakin gap dengan yang diinginkan pasar, apalagi opini sebuah administrator yang baik bukan yang jago mengintegrasikan tetapi sabar menunggu system. wow.. sebuah paradigma yang benar atau salah yah ini.

Saya belum menemukan komunitas yang berparadigma seperti ini di Indonesia, kalau di JUG sih mengextend framework menjadi solusi sudah biasa, tetapi menggabungkan banyak solusi menjadi sebuah platform baru sepertinya masih baru di Indonesia. Will the OpenComputing initiative yang digagas Arvino akan menjadi sebuah komunitas baru?

Contohnya adalah menggunakan OpenOffice sebagai server, diextend menjadi Sharepoint protocol implementation (Alfresco), terus dikembangkan menjadi sistem pengarsipan dalam perusahaan advokasi atau document management...

Menarik bukan opini ini.. apakah anda termasuk yang berpikir bahwa OpenSource adalah sebuah platform inovasi...juga..


Share |


Post a Comment:
Comments are closed for this entry.
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!






View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:






Search

 

« March 2010
SunMonTueWedThuFriSat
 
1
2
3
4
5
8
9
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
   
       
Today

Links

Feeds




Navigation