Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Murid yang Menolak atau Standar Sekolah yang buruk

Jul 10, 2010 by Frans Thamura

Sudah lebih dari 6 bulan ini saya diskusi dengan banyak kampus dan juga sekolah-sekolah, dan menarik sekali. Ada beberapa pengalaman yang saya dapatkan dari semua ini, dan kaget bin ajaib, ternyata ini terjadi.


Satu Kampus "B", sang dosen mengatakan sang mahasiswa sudah mabok dengan OOP, tetapi bangga mengajarkan SOA, tetapi lucunya pada saat bicara aristektur disarankan tidak diajarkan ke mahasiswanya, karena OOP aja mabok, dianggap mahasiswanya tidak mampu.

Satu Kampus "SMKN1 di D", mengatakan muridnya menolak program yang lebih baru, sehingga sekolah mengalah dan mengikuti kemauan muridnya. Jadi outputnya adalah pegawai pabrik untuk lulusan sekoalh tersebut. Padahal teori saya, semua manusia adalah sama, dan asal ada standar yang bagus, manusia sebagai makluk yang telah dapat bertahan hidup sejak jaman es, pasti dapat beradaptasi. SEhingga beban seberat apapun pasti bisa. Contoh SMK yang dianggap program yang mustahil, ternyata sekarang kita mendapatkan anak SMK yang super sakti dibandingan mahasiswa dengan IP 3.7. Jadi jangan meremehkan.

Saya melihat beberapa sekolah disekitar saya tinggal ada yang memasang standar supertinggi dan uang sekolah supermahal, dan ternyata laku dan penuh, dan anaknya mampu. Tetapi 2 kasus diatas terjadi, yang notabene malah Kampus "B" adalah kampus swasta terbaik di negara ini (konon).

Maklum saya sekarang sedang dalam krisis kepercayaan terhadap lulusan S1 dan D3/4 dari keahlian praktis dan juga keahlian bekerja. Konon mereka diciptakan untuk kerja di lab riset, tetapi saya kasih riset juga, gak kelar-kelar sangat sering terjadi, sampai Pak Heru memberikan teori 3%, artinya hanya 3% maksimum yang proactive, dan sisanya gak jelas, dan diharapkan 3% dari 3% ini yang bagus. Tetapi apakah yang terbaik ini akan bersama kita, saya jamin tidak akan, apalagi negara ini suka banget dengan kerja diluar negeri, seberapa rendah dan tidak strategisnya pekerjaan tersebut, Kalau perlu di luar negeri, jadi pembokat jadi lah. Ilmu yang diinvestasikan dibuang gak penting, yang penting luar negeri.

Padahal kita kalau mau maju, harus memiliki sebuah baseline target standar yang diinginkan, tetapi ternyata saya baru tahu, banyak institusi yang target standarnya adalah capital, alias nilai uang yang masuk, bukan dari seberapa bagus atau berkualitas.

Ada ide dengan fenomena yang terjadi, no money = useless, high quality tapi no money juga useless. GIla kan kalau pendidikan kita berpola pikir seperti ini, saya percaya gara-gara pendidikan kita berpola pikir seperti ini, makanya deindustrialisasi adalah hal paling tepat buat negara ini. 

Share |


blog comments powered by Disqus
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!





View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:



Search

 

« February 2012
SunMonTueWedThuFriSat
   
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
   
       
Today

Links

Feeds




Navigation