Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Mengerti Pendidikan dan Mengerti Industri dan Merasa Mengerti Semua

Aug 02, 2010 by Frans Thamura

tidak terasa sudah lebih dari 4 tahun berhubungan dengan pendidikan, dan area yang malah tidak direncanakan dalam 10 tahun saya buka usaha TIK. Malah ini area yang tidak pernah saya rencanakan dalam hidup, planning dari SMA saya adalah exodux, jadi kalau ada test kebencian negara mungkin saya bisa masuk top score.

Yang terjadi kok makin hari malah makin jadi seperti manusia yang peduli negara ini, saya sendiri tidak tahu kenapa, apakah ini garis tangan atau tekanan hidup.

Kata Link and Match  diinisasikan oleh mantan mendiknas kita, Wardiman Djojonegoro, ini juga saya tahu dari Pak Tjetjep, pas kirim anak magang ke Meruvian.

Ternyata Link and Match ini seperti 2 dunia kelam dari kang ouw yang sangat berkuasa yang memiliki ego dan dunia yg berbeda pola pikirnya, yang lebih menarik lagi ada orang yang memiliki dua kaki, yang merasa mengerti semua ini, sayang saya gak punya data seberapa gede ini orang yang mengerti semua ini dari sisi sebenarnya. Kalau mengacu pada Al Reis, brand akan kuat kalau kita focus diawal, tapi kalau mengerti semua, focusnya kapan. Saya sih malah curiga orang yang mengerti semua ini yang menyebabkan kekelaman pendidikan negara ini. Lulusan S1 kita masuk kategori gamer daripada calon insiyur. 

Struktur pendidikan SMK, baru saya dapat sebuah sinar, saat ikutan tim BSE, dijelaskan pak Onno W Purbo, termasuk juga kerasnya masuk ke diknas, saya jamin sekeras dinasti Tang, yang kejam. Jadi jangan tanya struktur S1 atau Dikti di Diknas, saya masih gak tahu siapa dan musti gimana. Mungkin saya harus professor dulu baru bisa, maklum di dikti, gelar lebih penting daripada ilmu, tapi berbeda dengan pola SMK, yang welcome bilamana kita ini dari industri. Jadi inget dulu diusir saat LKS di Jl. Rajiman BAndung oleh pak Kadiknas, padahal saya dengan Budi dari Sun Indonesia mau share.

Nah untuk mempermudah ngelink dengan industri dan juga memudahkan ngelink dengan pendidikan, saya membuat satu diagram, dan ternyata bangga juga bisa dibilang translator. Lihat saja pola pikirnya satu produk based satu lebih ke jurusan, malah product based ini juga ada stacknya, mulai dari peranti keras sampai solusi industri yang sangat spesifik.

Diagram ini menjelaskan kelemahan sekolah yang kerja sama dengan vendor asing yang tidak memiliki manager untuk urusan kurikulum secara detail, selain orangnya sulit, juga ilmunya sulit. Sehingga karena tidak ada orang ini, entitas yg kerja sama dengan vendor asing, mostly seperti bayar untuk pasang logo, nah saya mencurigai ini yang membuat step awal kekelaman pendidikan, karena kerja sama dengan vendor asing seperti membeli cap asing, tapi indicator anaknya gimana tidak ada.

Padahal manajer pendidikan dibutuhkan untuk membuat pendidikan kita mengerti yang terjadi di industri, dan juga mengerti gimana diperlukannya SDM di industrinya termasuk pemetaan skillset, sampai buat soal ujian. tentu saja kalau ini mengacu pendidikan pada product based bukan academia semata.

Saya melihat dengan adanya internet, orang yang mengerti semua termasuk endanger species, alias harusnya punah, apalagi belajar satu area dari secara end-to-end saja, perlu komitment diatas 8 tahunan (saya mendapatkan angka ini dari pemilik apotik "Jadi" di topaz yang telah terbakar di grogol sana), malah dibilang harus 10 tahunan. Jadi bagi yang baru 1-2 tahun sudah merasa tahu, kelaut deh lo.

Petuah pak Djarot, Sigma, mengenai kalau terlalu masuk ke pendidikan akan jadi terlalu sosial, terjadi sekali disini. Karena kalau kita mengkomersialkan pendidikan, indicator berubah dari keahlian menjadi uang, ada yang tahu kalkulator mata uang yang inputnya adalah ilmu? 10 ilmu  = 10 juta.. gak bisa kan, gara-gara ini makanya kita tidak bisa memberikan berapa sih harga sebuah ilmu, sebuah amazingly intangible value. Tapi biasanya ada kesepakatan untuk minimu, disebut UMR, Upah Minimum Regional.

Tapi trend Java selama 1 dekade ini, membuat gaji lulusan S1 selevel ASEAN, padahal kita tahu pasar TIK kita terburuk di negara ini, khususnya area yang piranti lunak. Tragis kalau dibandingkan dengan negara maju, yang value TIK piranti lunak beberapa kali perangkat keras. Jadi ini negara adalah negara yang melihat piranti keras seperti mainan anak-anak, dibeli terus, tapi diutilisasikannya rendah, alias seperti gadget. Padhal gap industri yang kecil di Indonesia dengan harga diluar ynag tinggi, sebenarnya peluang, untuk tetap di Indonesia dan go global. Tapi tentu saja ekosistem kita ancur2an disini, internet byar pet, lelet, tapi dibanggakan termurah, terus jalan bolong. Tapi banyak yang sukses juga loh, tapi gak bisa massive. Akibatnya kita menjadi pedagang semua, dan ini akar lainnya dari kekelaman semua hal ini, pedagang adalah usaha yang gak pernah rugi, dan gak pernah susah, wong yang buat orang lain, dia hanya jadi calo kiriman saja, ini yang membuat produk tanpa riset kita sangat jarang. Membuat link and match sedikit pusing, ini kita ngelink dengan negara tetangga atau dengan lokal area, dimana SMK kan diharapkan dengan sekitarnya. melenceng lagi deh.. ding ding..

 

Tapi dengan progress yang baik di SMK, juga dengan susahnya SDM di industri, sepertinya suatu hari harus terjadi sepahaman, dimana sisi kiri (industri) dan sisi kanan (pendidikan) harus duduk bareng. Kapankah itu?

 

Share |


blog comments powered by Disqus
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!





View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:



Search

 

« February 2012
SunMonTueWedThuFriSat
   
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
   
       
Today

Links

Feeds




Navigation