Frans Thamura didunia agnostic

Melihat Open Source dari sisi lain.

May 25, 2009 by Frans Thamura

Beberapa tahun yang lalu, diadakan Debian Conference #1 di UI, piagamnya saya masih pajang dikantor. Ada approach yang saya buat yaitu BlueOxygen Strategic Framework, sebuah cara pandang mengambangkan solusi yang end-to-end yang dibuat berlapis.

Dimana manajemen melihat solusi yang diberikan dari sisi yang lebih strategis, mengacu pada cara pandang perusahaan tersebut, terutama top level management, yang cenderung "sibuk", ingin cepat dan mengena, walaupun tidak sadar malah bukan bumbu dari solusi yang didapatnya.

Hal ini terlihat karena kecenderungan, setiap manusia, semakin tinggi levelnya, melihat sesuatu semakin tidak teknis, dan malah banyak yang dengan bangga mengatakan sudah tidak mengerjakan hal-hal teknis, walaupun orang tersebut belum top banget levelnya. Sepertinya gelar "teknikal" di Indonesia adalah sebuah kasta kelas dua.

Fenomena OpenSource merupakan sebuah gerakan grass root yang sangat popular diluar sana, dimana di Indonesia masih sebatas using daripada creating, ini terlihat perang perebutan pasar oleh produk lokal yang OpenSource tidak pernah terdengar.

OpenSource mulai memasuki level yang lebih tinggi dari sekedar container object, sistem operasi, sekarang sudah memasukin solusi yang lebih mature. Hal ini juga terjadi di team kita, lihat saja produk BlueOxygen bergeser dari produk teknikal yang targetnya orang teknis menjadi orang non IT malah, seperti BlueOxygen Papaje untuk job marketplace dengan psikotest (DISC, MBTI), BlueOxygen Brigade solusi ujian online, BlueOxygen Aroma sebagai solusi survey management, Relief untuk Balanced Scorecard.

Untuk Indonesia, yang sangat sangat ingin total, pengen murah, pengen lengkap dan tinggal pakai, dan kecenderungan manajemen yang anti teknis karena momok yang dikembangkan mereka sendiri, terkadang memilih teknologi yang asal dibuat yang penting bisnis prosess masuk, akibatnya saat mau integrasi buat lagi .. Ini menjadi cambukan bagi pemain OpenSource yang notabene masih perusahaan kecil-kecil dan jarang yang punya background management consulting. Ini menjadi sebuah perjuangan extra besar. Bayangkan belajar Linux aja gak pernah kelar-kelar, belajar Java gak kelar-kelar, ini ditambah dengan unsur manajemen, yang sangat erat dengan urusan manusia. Change Management adalah fondasi ini semua, bukan MVC lagi.

Yang menarik beberapa lama ini saya sering melihat, ada syarat untuk menyelesaikan solusi dari sisi software engineering, seperti harus CompSci, padahal dalam management consulting, biasanya pendekatan bukan UML tetapi sebuah SOP atau BPR (Biz Process Reengineering). Maklum dulu saat kerjaan IT Blue Print, IS Strategy, gak ada tuh deliverable UML.

Dimana saya melihat value sangat besar dari non teknis yang saya jamin CEO-CEO dikasih UML pasti marah dan suruh keluar, kamu gila, saya suruh baca ERD atau UML atau DFD.. Mendingan high level flow yang teroptimasi dengan uang langsung.

Nah mungkin ini bisa jadi glue, gimana ngomong sama top tier bagi yang bermain-main OpenSource. Biz Expertize memang sangat penting, dan kadang dibayar lebih mahal daripada jago teknis.. Tapi.. eitt... sudah tahu orang yang bisa buat cluster scalable environment juga dibayar mahal, dan saya jamin level ini harusnya sama tinggi dengan orang yang punya Biz Expertize..


Share |


Post a Comment:
Comments are closed for this entry.
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!






View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:






Search

 

« March 2010
SunMonTueWedThuFriSat
 
1
2
3
4
5
8
9
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
   
       
Today

Links

Feeds




Navigation