Lulusan SMK Tidak Magang di Industri dan Pengalaman Pengelolaan SMK
Bulan ini Meruvian kedapatan anak lulusan yang belum magang, tetapi ada yang masuk kategori magang, karena sistem 3+1 di SMK-nya. Umumnya kita memberikan incubasi selama 3 bulan sampai 6 bulan, tergantung kemampuan anaknya, ada yang diberi uang saku atau yang harus menanggung sendiri.
Pengalaman mengelola anak SMK, kami mendapatkan bahwa beberapa anak yang telah magang, walaupun tidak memiliki performance yang bagus alias dibawah standard minimum Meruvian, ternyata di perusahaan dapat mengerjakan pekerjaan yang diberikan, tentu saja kerjaan adalah membuat aplikasi bukan mengembangkan kernel MVC.
Setelah 2 tahun umumnya untuk anak yang memiliki komunikasi baik, akan dapat mengembangkan kernel MVC, walaupun hanya anak khusus yang dapat menyelesaikannya dengan tuntas.
Umumnya anak yang tidak pernah bersentuhan dengan Meruvian, tetapi pernah magang, akan mendapat "komplain" dan minta replacement dari pihak client, ini artinya "Buruk" untuk kita semua. Walaupun ada beberapa client memaksa karena sudah mendapat proyek, jadi anak baru 1 bulan saja diambil.
Umumnya anak yang lumayan akan dapat beradaptasi setelah 3 bulan, tetapi tentu saja belum bisa mandiri dan setiap baris pekerjananya harus dimonitoring oleh seniornya. CIlakanya kalau mendapatkan senior yang tidak dapat berkomunikasi, harus ada team leader yang mengontrol semuanya. Maklum Indonesia adalah negara SC dari DISC yang konon sampai 70%.
Untuk anak yang memiliki jiwa domian, bilamana telah mengerti dan dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik, harus diedukasi untuk ilmu team work dan khususnya manajemen proyek. Sebuah gap baru antara experience dan template programmer gap terbentuk, dan ini sebuah missing emotional disorder baru terjadi.
Sayang sampai saat ini, walaupun kepercayaan muncul, sangat sulit mencari sebuah kultur pemahaman adaptasi manajemen, sehingga diperlukan pembiaran sampai terjadi pengalaman pribadi yang diharapkan, bilamana pengalaman itu tidak terjadi, sebuah jalan ditempat terjadi.
Nah itu pengalaman kita berhubungan dengan SMK, yang lebih cilaka adalah untuk beberapa SMK yang kita kelola, yang memiliki aim dibawah dari inovasi yang kita kembangkan, seperti maunya kerja jaga toko, kerjaan kasar seperti angkat barang, atau tarik tarik kabel secara fisik. Kebanggan virtual masih perlu edukasi lebih lanjut, terutama bagaimana jiwa menilai sebuah value dari sebuah pekerjaan yang non fisik, ini sangat sulit terjadi.
Maklum bukan hanya mereka, ortu saya saja masih mengatakan itu walaupun tahu anaknya telah 15 tahun berwirausaha disana.
blog comments powered by Disqus


