Cara Jadi pengusaha java yang efektif ala JENI (jTechnopreneur)
Saya sering mendiskusikan mengenai bagaimana mengembangkan kurikulum Java untuk beberapa perusahaan dan sekarang malah institusi pendidikan, dimana target akhirnya adalah technopreneur, dimana di Meruvian, inisiatifnya disebut jTechnopreneur.
Technopreneur ini muncul sebenarnya karena sekitar 4 tahun lalu, saya diundang untuk membantu Guna Darma dalam pengembangan Incubator Business Center yang dibawah naungan RICE Deprind.
Sekarang ternyata program IBC ini popular sekali, hampir semua kampus mau buat, apalagi dg data statistik di Indonesia, pengusaha hanya 400.000 orang saja vs 230 juta penduduk, artinya 0.018%, padahal untuk sebuah negara termasuk negara berkembang, minimum 2% pengusaha untuk meningkatkan nilai kompetisi negara itu dalam bersaing dan bertahan hidup. Jadi dari 1000 orang hanya 1.8 orang saja.. gak sampai 2 orang...huh..... berbahaya sekali bukan, negara yang suka menjadi pegawai??
Kami dari Meruvian mengeluarkan sebuah inisiatif bernama jtechnopreneur, dimana kernel dari inisiatif ini adalah JEDI yang dikembangkan rekan-rekan dari pilipina, dimana versi extendednya disebut JENI di Indonesia (dikembangkan BKLN terus dibawa ke Seamolec).
Nah, untuk memulai menjadi pengusaha Java sebenarnya tidak sulit, dan traacknya sudah clear saat ini. Ada beberapa perspective yang dapat dijadikan acuan, dan mungkin ini dapat menjadi referensi dan juga jadi acuan pemilihan skillset.
1. Gaya Akademik
Akademik dianggap ada waktu untuk mempelajari secara berstruktur, dan sebaiknya mengacu pada JEDI saat masih kuliah, kemudian diextend ke JENI track mobile bagi yang hendak masuk dunia mobile. atau ke enterprise. Program ini diambil seperti halnya sekolah, dan umumnya memerlukan waktu yang lebih lama, dan secara fondasi lebih baik.
2. Gaya Industry
Ini yang menarik, skil basic Java OOP dibuat paralel dengan program on the job training, dimana programmer langsung dilempar ke pekerjaan, padahal ilmunya masih sangat minim. Pengalaman kita, hal ini dapat terjadi bilamana perusahaan sudah memiliki team framework integration, dan juga telah memiliki internal mentor untuk membantu programmer. Kasus JENI dan jTechnopreneur mengambil program pendekatan track ini untuk Fast Track development. Dimana seorang programmer baru yang belum bisa Java, belajar langsung JENI 5 atau Medallion Stack, didampingi dengan satu mentor, kalau ada pertanyaan sang mentor langsung menjawab dan memberikan tip and trick.
Knowledge Management implementation didalam Gaya Industry sangat sangat diperlukan terutama content yang practices untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Nah setelah team mentor ada, secara paralel diwaktu kosong, programmer harus mendalami skill fundamental, seperti Java OOP Fundamental, mendalamin dari buat object sampai collection.
Model Industri telah kita gunakan untuk menghasilkan rapid programmer java, tetapi tentu saja team akan semakin baik, bilaman inovasi dan team kernel framework integraton terus berinovasi (sebaiknya disearahkan antara release dan kurikulum).
blog comments powered by Disqus


