Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Branding Case: Rakyat Indonesia dg Satria Bergitar dan Rakyat Java dengan TCK

Aug 19, 2010 by Frans Thamura

Minggu ini adalah hari paling terberkati diseluruh dunia, terutama bagi orang Indonesia yang merayakan ulang tahun ke 65, kasus "narsis" terjadi di Indonesia. Ini kasus leadership paling menarik yang pernah saya alami dalam hidup saya, khususnya bagi kultur Indonesia yang mostly mengacu pada kultur jawa, walaupun ini bukan the only kultur yang ada. Kultur yang mirip dengan Asia, yaitu menghormati seniornya, dan beberapa kultur yang sangat menarik didalami.

Dimulai dari menyanyikan lagu SBY di acara kemerdekaan, dibagikan buku anak sulung SBY di acara kenegaraan, yang mendapat celaan (sepertinya celaan ini bukan yang pertama tapi dah lusinan.). Dimana di milis IGI (Ikatan Guru Indonesia), sangat hot, dimulai muncul istilah Satria Bergitar, sampai perbandingan level narsis presiden dunia dengan presiden kita.

Ini beberapa URL yang mungkin dapat jadi referensi.. (dikasih referensi biar lebih ilmiah)

Tempo dg gambar headline SBY bergitar
http://tempointeraktif.com/hg/politik/2010/08/18/brk,20100818-272089,id.html

Dan ini URL Presiden Zambia, Pierra Nkurunziza mengundang "orang-orangnya" untuk menari dan menyanyi bersama di lapangan sepakbola. Berapa banyak ? Lima belas ribu orang .... hehehe ....
http://www.zimbio.com/President+Pierre+Nkurunziza/articles/H5wN7yKXorV/Burundi+singing+president+marks+four+years

Berita lain, adalah saat Presiden Pakistan Pervez Musharraf menyanyi dan masuk ke Youtube. Beritanya ada di sini
http://thenextweb.com/2009/08/15/pakistani-president-singing-youtube-sensation/

Jadi mungkin memang menjadi presiden akan membuat semua orang menjadi narsis.. Walaupun presiden kita yang pertama merubah website resmi dan mempromosikan CDnya yang dijual dikota Anda.

 

Tapi blog ini tidak membahas SBY dan gitarnya, sebab itu bukan urusan saya dan bukan area of interest saya, hanya yah sebagai rakyat Indonesia, kecewa saja memiliki pemimpin seperti ini.

Nah ini isi blog saya, untuk sebagai perbandingan, tetapi intinya sama, leadership. Mari kita bandingkan Leadership SBY (jangan dg Obama lah jauh), tetapi dg Oracle yang sekarang memiliki Governing Java, bernama JCP dan Trademark. Kalau kita sambungkan, keduanya sedang mengembang citra. Dan 2-2nya sedang mendapat tekanan public yang kuat. Branding case menarik.

Nun jauh di ujung sana, tepatnya di Pengadilan San Jose, California, sedang ada sebuah kasus mengenai pelanggaran paten dan hak cipta Android terhadap Java oleh Oracle ke Google.

Oracle sejak lama aktif di JCP (Java Community Process), dan juga konon salah satu yang mengajukan TCK untuk teknologi Java bukan buatan Sun, sekarang dengan Java menjadi miliknya, dan komunitasnya yang 9 juta, serta model Java yang seperti negara. Otomatis CEO pemiliknya itu seperti presiden. Tenang di dunia Java belum pernah ada kasus menyanyi, jadi level narsisnya berbeda jauh dengan kasus diatas.

Oracle sedang diuji kepemimpinannya, dan tekanannya adalah kalau secara global komunitas tidak menyetujui, akan terjadi fork besar-besaran Java, artinya kalau model pencitraan SBY buruk, akan ditimpukin gitu kurang lebih, tapi ini fork Java lebih dahsyat, sebab semua investasi selama 15 tahun di Java akan menjadi sejarah, mirip IBM PC, dan akan tinggal kenangan. Tapi both parties, akan jadi sejarah. SBY akan jadi mantan presiden, dan Oracle akan jadi mantan pemilik yang menguasai Java (Sun telah menjadi pemilik Java, tetapi dia diakusisi bukan Javanya di fork).

Senior Java-man, seperti Jason Hunter yang a/n Apache dulu protes mengenai mekanisme JCP, adalah orang yang membuat kita dapat menikmati governing model JCP. Ada Joshua Bloch yang merupakan Chief Java di Google (yang membidani Android), juga muncul. Sepertinya dalam beberapa saat orang Harmony (Geir Magunson) muncul. Kalau ini muncul. milis Java Champion akan menjadi pusat dari semua opini ini berawal. Saya yang kebetulan terpilih dan ikutan milis tertutup jadi dapat melihat bagaimana tim Oracle mengumpulkan koleksi, menjelaskan mengenai JDK7 yang unrealistic, serta kasus TCK, OpenSource, dan standarisasi.

Intinya keadilan Java sebagai aset semua orang sangat terasa disini. Semuanya seperti merasakan kok gini sih, dulu gitu.

Rakyat Java itu ada 9 juta, dan hampir 60% solusi enterprise menggunakan Java, dan 80% di Indonesia semua telepon genggam memiliki Java, mulai dari BlackBerry, HP-HP lokal dari China, dan Android, serta hp-hp luar dari Nokia, Samsung, LG, SonyEricsson, sampai Motorola baik yang versi Droid ataupun yang jadul.

Rakyat Java sedang memperjuangkan kemerdekaan dan sedang memanaskan kasus lama yaitu mengenai OpenSource Java, secara total dan standard dan compatible. Mirip dengan Rakyat Indonesia yang sedang mendapatkan tekanan dari pemerintahan sekarang yang tidak pro rakyat (silahkan baca hasil pidato presiden kita di hari kemerdekaan). 

Semoga Oracle dapat mengambil keputusan, dan kasus meja hijau Oracle ke Google, dapat menjadi biaya yang dapat digunakan Oracle untuk membuat Java benar-benar total Open. Walaupun caranya sangat sarkastik, mirip sekasar presiden kita menjual CD di website kenegaraan, mengumandangkan lagunya di acara kemerdekaan, dan membagi buku anak sulungnya di acara kemerdekaan (tapi sampai hari ini buku anak sulung belum muncul di website kepresidenan nih)... Everything about power and money!!! 

Ini 2 kasus menarik secara branding, dan kita mulai melihat pentingnya persepsi. Oracle sangat hati-hati membuat brand, sampai semua hal harus merah dengan logonya. Kasus Java ini juga menarik, dan Google telah berhasil menggiring kasusnya menjadi kasus kenegaraan Java dengan membawa simpati semua programmer Java, termasuk saya. Walaupun secara langsung dan setelah didalamin program pencitraan Android yang bukan Java, tetapi "menggunakan" komunitas programmer Java adalah sangat buruk. Mirip dengan kasus SBY jualan CD di website kenegaraan. 

Kita berharap nanti akan muncul JavaDroid Edition, sebuah spesifikasi yang lebih rich dari JavaMe dan lebih simple dari JavaSE. Segment ini dulu disi oleh Java Profile, tetapi perkembangannya tidak jelas. Sepertinya James Gosling tidak gitu tertarik dengan area ini, sehingga ini area membuat Oracle kehilangan uang banyak, disabot oleh Android.

Kita yang di komunitas Java sedang berusaha ini tidak terjadi, karena kasus Android ini merugikan kita bangsa Java, dan juga kasus Oracle membawa paten juga merugikan kita sebagai bangsa Java.

Mirip dengan kasus pencitraan SBY yang merugikan kita sebagai Bangsa Indonesia, dan apalagi dicampur dengan kasus diamnya terhadap banyak kasus, termasuk penangkapan patroli oleh Malaysia di area Indonesia. Ini sebuah kasus yang sama, dimana kebetulan saya adalah rakyat keduanya..  

Hebat kan, 2 negara yaitu Indonesia dan Java memiliki kasus pencitraan, dan menarik dikaji. Sebagai tambahan Java itu merk produk digital, dan di Indonesia ada pulau Jawa dan sudah tahu orang Jawa di Indonesia adalah mayoritas penduduknya. kasus menarik kan.

 

Action apa yang hendak Anda lakukan terhadap dua hal diatas?  

Share |


blog comments powered by Disqus
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!





View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:



Search

 

« February 2012
SunMonTueWedThuFriSat
   
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
   
       
Today

Links

Feeds




Navigation