Bangsa Pemakai dan Produk Buatan Sendiri
Saya salah satu pencemooh program ACI (Aku Cinta Indonesia), yang sempat jadi film, saat saya masih kecil. Hidup area yang bangga banget kalau pakai TV merk Sony. Sampe dulu sempat tuh jadi bahan diskusi kebanggan sendiri punya TV Sony. Sekarang jamannya telepon genggam, tetapi merk asing. Sempat masuk dalam lingkungan Digitec atau Polytron, ternyata ini dipunyai perusahaan, maklum anak kost, terus kegeser sama flat TV, yang sampe hari ini saya gak pernah punya (eeitt. punya ding satu.. Samsung..)..
Dari semua ini, terlihat saya lahir dikeluarga pemakai, apalagi hampir keluarga mostly pedagang, yang buat barang sendiri, merk sendiri itu pun saudara sepupu luar dan suaminya, sebuah pabrik speaker active.
Sadar gak sadar, eh saya buat produk sendiri, opensource, blueoxygen namanya, terus gara-gara ini barang, jadi malang melintang selama hampir 9 tahun didunia industri IT, yang notabene setelah 9 tahun, ternyata negara ini gak gitu peduli sama merk sendiri, dan beratnya mempromosikan produk sendiri. Pertama mendengar, kalau pemerintah gak ngerti jangan ganggu, ternyata, gangguannya banyak. Jadi buat pengusaha muda/baru, yah kasus ini harus jadi sebuah kemakluman, Indonesia gitu loh. Ternyata kasus ini sudah beberapa dekade, kepopularan merk harus seimbang dengan expense yg disiapkan, sebab kalau terkenal merknya identik dg gula, semutnya pada datang, tapi bukan semut pembeli.
Yah blog kali ini, saya berusaha menuangkan sebuah "kerasnya" hidup, apalagi negara ini tidak membutuhkan orang Pinter, tetapi perlu orang tahan banting, pinter nomor sekian. Malah kelambatan response, membuat sebuah inovasi jadi sampah, karena pas awareness naik, orang terlambat didunia juga sudah dapat membuat barang itu. Apalagi proteksi hukum hampir tidak ada. Ini terjadi dengan kasus karya om saya (sepatu) yang diambil sama perusahaan besar, dan beliau gak dapat sepeserpun, dan jawaban beliau cuman ya inovasi lagi. Keras kan hidup di negara ini.
Proteksi yang bualan terhadap hasil karya dalam negeri ini yang membuat investasi pengembangan produk tidak relevan, bisnis imitasi dan replikasi adalah yang terbaik, buat mereka yang ini sustain. Serius, investasi inovasi adalah sebuah pekerjaan hobi, jadi kalau mau bisnis dari inovasi, mungkin abad ini belum bisa disini.
Landasan diatas mengapa saya mengOpenSourcekan semua inovasi kita, daripada dibajak, mendingan jadi barang kenikmatan. Apalagi mama lauren bilang bisnis yang bagus di Indonesia sampai tahun depan adalah Restauran atau Kenikmatan alias entertainment. Relevan kan.
Karena pasar yang akan diciptakan terhadap produk sendiri, untuk menjadi market leader, sangat berat. Saya salut sama para pemain consumer good yang bisa membuat produk inovasi mereka menjadi raja diraja dinegara lain, harus bersua dengan para ownernya dan brand managernya, sampai bisa seperti ini. Melalui blog ini saya "kui" 3x deh buat kalian, "pai pai" juga.
Melalui blog ini, diharapkan ada satu atau dua rekanan yang tertarik dengan pengembangan produk sendiri, dan mari kita "menikmatinya" bersama-sama, seperti duduk minum kopi susu dg roti bakar, atau kalau gak suka kopi susu, yah soda gembira gitu ganti.
Indonesia adalah negara ke-4 terbesar yang belum terdevelop, usianya sama dg Singapore, Malaysia, tetapi yah karena miss-management, dan malah reformasi belum menghasilkan, dan gerakan politik yang tidak mendukung kekuatan dalam negeri. Ini sebuah pasar besar tetapi yah itu, you must know him. Mari kita minum kopi+roti bakar tambah telur 1/2 matang.
Ada ide gimana kalau telurnya 6 butir? ini rakus apa kenikmatan?

Telur 1/2 matang Kun Kaya Toast.. sama roti kejunya satu slice lagi.. dan Es Kopi






