Bahaya Propietary atau Closed API terhadap ekosistem SDM IT Indonesia
Dalam 2 tahun ini tidak terasa saya memfocuskan diri mengatasi masalah SDM IT yang notabene sampai kuping panas, tapi ini bagi pengusaha yah peluang kan.
Saya berusaha memaping antara SMK, S1 dan Industri, dan sekarang sudah hampir ke taraf final, education issue dah mulai terselesaikan, dan tinggal industrinya nih.
Tapi kaget juga, ditemukan banyak API propietary yang dimasukand alam solusi penyedia IT, dan merubah standard pendidikan yang saya kembangkan, dan malah vendor internasional penyedia solusi Java container (Java EE), sepertinya cuek bebek dengan semua ini (maklum sales rep daripada branch office).
Nah saya melihat dalam link-and-match program ini, atau flow supply ini ternyata membuat cost baru, terutama bagi mereka yang produknya sudah jadi, dan semakin kompleks dan propietary, semakin tinggi gapnya, dan bilamana perusahaan tidak punya program pendidikan terpadu, ini menjadi issue tersendiri, apalagi bossnya tipe marketing bukan technokrat. Selamat datang didunia hitam. Sebab output pendidikan diharapkan langsung kerja, dan kalaupun anak itu terbaik, tetapi buta sama solusi tersebut wong propietary.
Ini kasus terjadi loh dibeberapa area, dan saya sendiri sedang mempush, pentingnya membuat knowledge management didalam perusahaan, dan kalau mau dishare ke program open education Meruvian, akan sangat membantu supply SDM.. (susah ternyata euy). Karena program Open Education Meruvian kita map dg kurikulum tiap institusi, dimana dg KTSP dan Kompetensi Curriculums, akan ada banyak implementasi, tetapi kita keep track progress ini.
Bayangkan kasus ini terjadi didunia Java, yang Java EE containernya adalah sudah standard, mimpi lebih buruk dan dunia lebih gelap bilamana perusahan menggunakan engine propietary dan solusinya dikembangkan juga propietary, selamat datang didunia hitam, saat mau ganti, sama dengan membuat perusahaan baru.







Frans, gw lihat salah satu vendor di Telkomsel yg mendevelop CRM Telkomsel (yg dipakai di Grapari dan Call Center Tsel), solusi mereka yg berplatform Java juga proprietary. Proprietary dari sisi development tools (mereka punya tools workflow sendiri), dan proprietary dari sisi bisnis proses (oleh tselnya sendiri).
Tapi gw perhatikan karyawan yg mereka rekrut cukup memahami/menguasai solusi2 yg umum di dunia Java dan open soure (J2EE; Apps server spt Jbos; Struts atau semacamnya; Apache Axis; etc).
Jadi walau solusi dari sebuah perusahaan IT itu proprietary, tapi skill2 yg diperoleh dari memperlajari solusi open source bisa dimanfaatkan krn basic2nya ada di open source itu.
Posted by Ananda Putra on September 02, 2009 at 11:12 AM WIT #
itu pilihan telkomsel, dan yah biar telkomsel merasakan susahnya berubah nanti, bilamana hendak melakuakn perubahaan, dan tentu saja, kalau perusahaan penyedianya disuruh rubah, costnya sangat mahal, dan dg globalisasi, gue rasa cost yang dikeluarkan harusnya gak segitu, tetapi yah gimana itu kan pilihan telkomsel, makanya kalau telco makin saingan, mereka akan makin open kok, dan pilihaan pake solusi propietary diatas open tech juga merupakan sebuah kesalahan besar.
dan semoga itu jadi pembelajaran buat saingannya, sebab IT kan platform operasional sekarang, kalau fondasinya gak efisien, yah diatasnya otomatis akan ikutan renteng, makin costly, dan saat saingan terjadi, nunggu bablas saja.
sekarang mungkin dia belum, but i believe telco akan makin komoditas dan pasti ada substitute technology, lihat Wimax, atau nanti ada yang baru lagi
kalau ini dipkir jauh2 hari, gue jamin telkomsel bisa go regional bukan jagoan kandang.
Posted by Frans Thamura on September 05, 2009 at 11:24 PM WIT #