Android di Pasar Java, bersaing dengan siapa?
Jul 21, 2010 by Frans Thamura
Android has been all over the Jakarta city. Coba keliling seputar tol dalam kota Jakarta, ada iklan mulai dari SonyEricsson Xperia, dilanjutkan dengan merk lokal Nexian Journey A890, disekitar grogol dari pluit ada iklan Samsung Galaxy S.
Ada juga komunitas pemakai Android dibawah id-android yang membernya banyak, tapi belum aktif banget untuk transaksi jual belinya. Biasanya sih nanti akan masuk ke second hand market kalau user-user di Indonesia (terinspirasi IndoWLI).
Sayangnya programmer Android masih belum kedengeran, dibandingkan programmer Java (maklum sudah ada sejak 2001). Tapi ini pertanda menarik, karena logo Java di HP baru muncul diiklan-iklan HP lokal, sebab SE, Nokia, Motorola dan BlackBerry sendiri gak pernah tuh iklan logo Java. Jadi kalau secara iklan, ternyata 2-2nya baru ditahun 2010 ini beriklan.
Dijamin awareness ada teknologi Java di handphone kita-kita ini sangat rendah, apalagi Indonesia termasuk kategori gatek country, dikasih tahu tiap hari aja gak tahu, apalagi gak pernah ada kegiatan.
Ini berita menarik, sebab artinya piranti lunak yang umumnya masuk grade buangan telah menjadi salah satu sarana penyelamatan diri dari persaingan yang semakin keras, kalau di diagram Aaker, ini artinya turun kasta.
Kalau terus seperti ini, artinya value yang diberikan telco dan handphone as device semakin rendah, atau pemakai semakin ingin lebih. Lihat saja pemakai HP lokal tanpa browser gimana.
Walaupun meeting terakhir dan pernyataan pembuat Java (tahu kan siapa), memperlihatkan chipmaker masih mengontrol adanya semua ini. Vendor Lokal kita masih belum mengerti mengapa dia menjual HPnya ada browser, Java, atau aplikasi sosial seperti eBuddy. Spesifikasi teknis dikalahkan oleh jiwa dagangnya. Tapi yah kita lihat, saat persaingan HP lokal menguat, akan masuk ke kancah tersebut. Nokia saja yang sudah memasukan informasi semua ini, karena business modelnya yang kurang friendly dengan piranti lunak khususnya segment pengembangan, sekarang jadi indanger species. Emotional value terlalu rendah, dan sustainabiliynya kurang bagus.

Lihat diagram diatas, aplikasi on Symbian, tidak masuk. Dan kita juga tidak tahu di Symbian mau kembangkan aplikasi dengan apa? JavaME yang dah oldies, Qt yang merupakan barang baru, atau Flashlite yang sekarang sedang disaingi HTML5.
Yang menarik, kita tahu juga beberapa tahun lalu, Microsoft rajin ke pendidikan, nah sekarang di era mobile, mau kemana.
Yang menarik dari semua ini, ternyata BB, Android, dan JavaME itu menggunakan bahasa pemograman yang sama, hanya teknologi deploymentnya yang berbeda, dan JavaME dan BB seperti sepupuan tetapi tidak sama.
Ada segment lain yang terlupakan, yaitu segment aplikasi desktop, dimana Windows adalah rajanya, dimana Microsoft berjuang developmentnya on .NET. Sudah tahu MS sendiri mulai promosi logo Java. 2010 memang tahun yang menarik khususnya untuk Java. FYI, Android is not Java tapi menggunakan bahasa Java untuk pengembangan. Welcome to the world of perspective.

Yang menarik, adalah ada logo tomcat dan Java. Microsoft sendiri gak tahukah? atau any reason, apaka Glassfish dg logo ikan, Jonas dg logo ikan paus, JFox dg musang, akan ditaruh distack compute?
Dengan hadirnya Android ditablet, artinya ada pembagian kategori untuk komputer dengan layar 7"-10", dan layar tersebut sama dengan netbook, dan juga tablet. Apakah akan keluar Android yang bekerja dengan keyboard, atau install Android di Netbook.
Maklum kita tahu pemakai Netbook umumnya menggunakan untuk browse internet, presentasi, dan ketik-ketik surat atau buat presentasi, sebuah kerjaan yang kurang lebih mirip dengan tablet.
Berita yang terakhir ramai adalah Windows7 dianggap terlalu berat untuk tablet market, dan sepertinya Android akan naik, sebab ini searah dengan masuknya iOS ke tablet dengan lahirnya iPad.
Jadi segment frontend, terpecah antara PC didesktop, Tablet, Netbook dan telepon genggam yang semakin rich aka smartphone.
Nah ini artinya semakin bervariasi pengembangan solusi di frontend ini, mau yang mana? Padahal mendalami satu saja lumayan makan waktu, apalagi development toolsnya banyak.
Kalau mendukung Android, desktopnya pakai Swing mungkin dapat menjadi pilihan, karena sama-sama menggunakan bahasa Java, atau yang lebih mantap lainnya adalah SWT dari Eclipse, yang notabene Symbian JRT (Java Run Time), menggunakan eSWT. Ini yang menarik, apakah Eclpse akan menjadi pemain kuat disegment mobile, dan eSWT itu bukan JavaME, jadi logonya berbeda bukan logo Java.
Kita di Meruvian sedang berusaha mengurangi report dari banyaknya pilihan ini dengan membuat project MIDas, itu dari kata MID (Mobile Internet Devices), tapi dikita disebut MID adalah Meruvian Integrated Desktop, nah MIDas itu adalah yang dilayer front, lihat diagramnya.

Dengan melihat kompeksitas dan terlalu banyaknya pilihan, membuat kita harus mulai memiliki jiwa agnostic artinya tidak memilih dan melihat secara lebih jauh kedepan pasar yang akan terbentuk, dan tentu saja, semuanya ingin melock agar tidak bisa lari. Lihat saja model lock dari Apple, buat iPhone harus pakai Mac, dan Objective-C/Cocoa hanya ada di keluarga Mac, Cocoa Touch hanya ada di iPhone, iPod dan iPad. Setiap vendor berusaha mengurangi pilihan, tentu saja hal ini membuat kesenangan kita semakin berkurang, wong orang mau coba gak boleh, ini barang lo atau barang gue, oops iPhone bukan barang kamu, tapi Mac bisa jadi barang kamu (bisa install aplikasi Linux dan Windows kan itu funnya MacOS).
Nah, kalau kita belajar semua, teler, tapi kita bisa merasakan bukan kemana arah persaingan, dan Android menjadi menarik, karena mengisi kelemahan JavaME, khususnya akses ke database (Android menggunakan SQLite), dan Android mengisi celah Tablet, artinya bersaing dengan Swing, .NET tetapi untuk segment yang kurang advanced, karena gak bisa full blown, tetapi apakah benar Anda butuh yang fullblown.
Android itu OpenSource, tapi ada yang bisa install sendiri froyo ke tablet, nah itu PR besar, webnya Android parah sekali. Google terkenal pengembangannya internal dan tidak terkolaborasi, tetapi lisensinya Apache, yang sangat liberal.
So, setelah baca blog ini mau kemana? Investasi TIK menjadi semakin mahal kan.
blog comments powered by Disqus


