Agnosticism in Microsoft, Portabilitas dan Platform
Sudah 2 bulan saya diskusi mengenai Microsoft Windows, dan technology Microsoft lainnya. Apalagi sejak Microsoft membuka protocolnya, jadi dulu kita tahu orang Samba ribut dg SMB team MS, karena yah itu susah banget buat Linux komunikasi 100% dengan Windows. Sekarang. Microsoft membuka protocolnya, dan yang menarik Sharepoint Protocol itusudah ada di Alfresco. Malah SMB protocol ada versi Javanya, coba ke Samba punya web, ada disana, dan engine SMB ini dipakai Alfresco juga.
Sejak adanya Tony Seno, aka NTO, konon Microsoft ini lebih terbuka dan welcome to collaboration, dimana selama 2 dekade, Microsoft terkenal dengan moto "only me and all get out", artinya semua vendor dikasih peluang buat solusi diatas Microsoft, tetapi Microsoft sang penguasa Windows akan membuat semua solusi kamu, dan artinya bagi yang buat solusi on Windows only, memberikan uang ke Microsoft karena kan harus beli Windowsnya, terus bersaing dari uang kamu dengan solusi yang kamu buat. Salah satu kasus ketakutan ini adalah merger Macromedia dan Adobe, Symantec dengan Veritas, dan masih banyak lagi.
Solusi Agnostic menjadi sebuah jawaban untuk mengatasi persaingannya, lihat saja semua bahasa pemograman kecuali buatan Microsoft dan yang old-fashion seperti Delphi, pasti jalan di semua platform baik Linux, Windows ataupun Mac. Sebut saja PHP, Ruby, Python, Java, dan Erlang yg lagi naik daun.
Malah topik di JUG Indonesia menarik, terutama sebutan "Smart Evil" muncul buat Microsoft. Artinya Microsoft ini kejam seperti iblis tetap tidak bodoh. Jadi kita harus berhati-hati.
Kalau saya pribadi harus berhati-hati memakai productnya tentu saja, kalau ke lock-in, dan saya kan bukan pemain seperti Symantec atau Adobe, gimana melawannya. Apalagi kalau marketshare yang dibuat dibagi ke competitor saya, dg pasar Indonesia yang sangat kecil, ini sama saja kematian.
Reposisi baru Ms sebagai platform yang friendly dan portable, ini sebuah reposisi baru, tetapi can we trust him? itu jawabannya. Tentu saja untuk negara Indonesia yang kepedulian ITnya dapat dikatakan hampir tidak ada, hal ini tidak berlaku, wong pake software dianggap seperti fashion show, ganti semaunya dengan cepat gak pusing.
Walaupun di Enterprise market, aman saja, ada yang buat billing buat 50 juta user dengan c dan Redhat, dan backbone bank pakai Java cluster. Walaupun kalau dibanding dengan case study luar, masih kurang hot. compare saja dengan LinkedIn, atauyang lainnya. Maklum lah negara user bukan creator.
Tetapi dengan arah komunitas Linux yang lebih ke OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) daripada sebuah kelompok profesional yang notabene siap go global, sepertinya ini peta persaingan yang menarik. Kefanatikan Linux yang tumbuh pesat, dan visi AOSI yang belum jelas (maklum dibuat untuk apa dan kebutuhan apa dan gimana, masih jadi diskusi hebat dimana-mana).
Saya melihat Microsoft masih notabene kuat sekali. Microsoft sekarang adalah market leader software loh di Indonesia, dengan sales hampir 200 juta dolar, dan salesnya dibuat dari whitespace, dari area pembajakan bukan dari market yang ada (market yang ada sekitar 200 juta dolar juga), ini artinya 50% software busienss milik Microsoft di Indonesia, gede kan.
Jadi sebagai orang Java (ceilee), yang jalan di almost allplatform, sepertinya marketshare yang baru ini menarik, dan reposisi Microsoft (kalau bener), membuat Java akan semakin kuat. Dengan negara perawan solusi IT, harusnya ini akan jadi growing market baru, run on Windows using Java.
Saya sih lagi berharap (harapan panci kah?), untuk membuat event dg Microsoft, biar mendapatkan ceruk on Windowsnya ini. Wong event dg PHP sudah ada. Tapi dengan Java, indanger gak yah
sebab Java is No. 1 Language dengan marketshare lebih dari 20%, kedua dan ketiga adalah C dan C++, ke empat adalah PHP. Dimana PHP dan .NET itu beda, satu webscripting satu OOP container. .NET dan Java, head to head competitor. Ini artinya membawa penguasa pasar development ke kampung .NET yang sedang dipupuk marketsharenya.
Apalagi Norman bilang in the future both .NET and Java will become same, wong both VM tech. Norman, kalau lo baca blog gue, comment yah, semoga comment masih gak close (maklum diset 7 hari).
Inilah enaknya solusi agnostic, saat Windows membesar, bisa ikutan pasarnya, saat Linux membesarpun bisa ikutan pasarnya. Apalagi Java sudah opensource, jadi we dont depend on Sun anymore.
Apalagi JVM like tech sekarang mulai banyak, nanti yang seru adalah Dvalik dari Android, V8 dari Google Chrome, terus TraceMonkey dari FireFox, dan Flash juga ada. semua technology in common, all agnostic. tetapi the most multiplatform the winner is it. Itu lah sebabnya Adobe Air mati-matian buat versi Linuxnya go stable version.
Menarik kan, Microsoft Windows mengisi satu ceruk kecil sebagai sistem operasi, dan 95% lebih marketshare global. sama dengan Java, mengisi 20% lebih diatas semua sistem operasi termasuk Windows loh. Tapi 95vs20, itu data yang gak apple-to-apple. Artinya kharisma Java belum setinggi Windows, tapi Bahasa Pemograman vs .NET +VB6+Delphi sebesar apa. Lihat sendiri dilink ini deh.
Sources:
www.langpop.com/
blip.tv/file/1137125
radar.oreilly.com/2008/03/state-of-the-computer-book-mar-23.html
www.tiobe.com/index.php/content/paperinfo/tpci/index.html
www.sauria.com/blog/2008/07/20/ides-and-dynamic-languages/


