Komunitas Open Source Indonesia, a Perspective from Marketing Mix
banyak banget yang tanya ke saya, mengenai open source, ini kata yang aneh bagi saya, sebab ada beberapa persepsi dan cara sustainnya di Indonesia, ini yang saya dapat
1. Komunitas Gak Dibayar Kerja
ini komunitas yang dianggap volunteer habis, jadi yang kerja adalah hobi banget bisa dibilang, atau niat, atau apalah, intinya dia kerja gak dibayar.
Dari sisi brand awareness, segment market ini masih dimasukan kategori kurang bagus untuk merk lokal, kalau merk global seperti apache, objectweb dan codehaus sudah menghasilkan kode kelas dunia.
Saya melihat brand untuk gerakan ini belum ada.
2. Komunitas yang ada revenu indirect
Komunitas ini yang paling banyak, terutama ngumpul diarea Linux, coba lihat biasanya jualan software accounting dikembangkan pake barang opensource, tetapi tidak diopensourcekan.
Komunitas ini dapat dianggap 2 sisi.
a., komunitas propietary dilingkungan opensource
artinya barang dia propietary, tetapi aktif dikomunitas opensource distack level bawahnya, seperti linux, php, java,
komunitas ini tidak bisa peering technology, dan saya melihat ini mayoritas di indonesia, maklum di indonesia walaupun pendukung opensource, gak percaya kalau barangnya di opensourcekan bisa sustain
b, komunitas user opensource
umumnya komunitas ini tidak hacking kernel dari linux atau apa, tetapi lebih ke pakai, tetapi ada juga loh ang mengerjakan lebih, seperti ngebundle, remastering linux.
saat ini ada komunitas yang melakukan remastering jboss, dengan nama tiramisu, tetapi itu tahun 2002-2004, sekarang penciptanya sudah hilang, tetapi ini meremaster untuk jadi propietary
3. entitas yang menginvestasikan productnya dan opensource
ini segment lain lagi, dimana ada sponsor untuk pengembangan opensource yang diciptakan, dan teknologinya bisa peering, nah ini segment dimana saya berdiri, dengan bendera blueoxygen.org, prinsip modelnya 1/2 jboss 1/2 apache, karena blueoxygen.org itu terpisah dari intercitra ataupun meruvian, tetapi ada full timer yang kerja, mungkin bisa dibilang mirip eclipse punya model.
4. opensource didunia propietary
ok balik dari 3 tipe komunitas yang diatas, ada satu lagi yang menarik, sebab komunitas ini masuk mana, sebab karena brand di indonesia yang lebih cenderung ke arah linux, dan tipikalnya belum jadi industri, alias masih riset dan trust support services yang gak jelas, sebab entitasnya membawa merk orang lain,
jadi terkesan komunitas ini terbuang, padahal dia opensource loh.
saya sempat mengembangkan model ini, gara-gara ada program hp dan microsoft, dimana menggunakan PDA, jadi buat aplikasi diatasnya.
beberapa contoh prject opensource tipe ini adalah aplikasi java mobile yang diopensourcekan, karena java mobile itu berdiri bukan di opensource tetapi di standard. walaupun sudah opensource, tetapip yang dipasang bukan versi opensource, versi remastering oleh sun.
Summary
jadi, komunitas di indonesia sebenarnya masih masuk level 1, alias pemakai semua, yang buat product seperti saya, juga belum archive market mindshare yang bagus, malah mayoritas lebih ke arah buat propietary di atas opensource, guna menekan biaya investasi softwarenya, dan saya bilang perusahaan ini sebenarnya adalah perusahaan propietary, contoh oracle database, jalan dilinux, sama gak.
nah, jadi dengan status kasus diatas, apakah indonesia dan komuntas opensource yang seperti ini layak dianggap ada?
Jadi apakah secara statistika bisa dibilang omongan pak menteri m. nuh benar apa adanya, opensource indonesia itu dibilang ada tapi gak ada, jadi dibilang mampu tapi gak mampu, dibilang bisa tapi omdo.
setelah riset berapa lama, akhirnya saya mengakui pendapat pak menteri kita.
NB: semoga blog ini gak dipake MS buat marketing. hehehehe,






Kamu tentu sudah tahu,
Google menawarkan peluang buat berkiprah.
Sudah ada di detik, aku cuma resounding di :
http://ekobs.multiply.com/journal/item/18/Komunitas_Android_Undangan_menuju_medan_tempur_Rp_92_Milyar
Posted by netcompetency on November 16, 2007 at 09:30 AM WIT #