Menyelesaikan bottleneck link and match dg SKKD, dg JIT dapatkah?
Menarik sekali minggu ini, karena "kecelakaan" wak onno mempublikasikan SKKD TIK, yang mana ini belum final.. banyak masukan, terutama seperti kesan daerah terhadap SKKD 2008, yang blum searah.
Apalagi yang SKKD 2010, yang notabene merupakan content terbaru, yang dimana saya sendiri ikutan nimbrung, malah banyak hal kita tambahkan, dan ini mungkin SKKD pertama yang melink 3 elemen utama TKJ, RPL, dan MM menjadi satu, dan link industri sangat dibutuhkan untuk membantu persepsi dinamis industri -- yang diera globalisasi ini, berubahnya lebih cepat dari nafas kita sendiri--.
Diskusi yang kuat antara para narasumber, yang kebetulan ada beberapa pengusaha dan juga professor.. jarang-jarang ada profesor dengan pengusaha bisa makan siang bersama, malah tidur bersama dalam satu kamar (tetapi tentu saja beda ranjang. huahua).
Opini mengenai pentingnya gelar yang dibawa sang profesor, dan juga solusi yang dibutuhkan industri menjadi sorotan, tetapi tentu saja diskusi "pemerintah menjadi momok" industri usaha juga menjadi topik hangat disela minum kopi, ditambah voting bank century dengan slengehan bernama kasus pencuri. yang membuat hubungan kita semakin hangat dan tidak formal. Maklum saja buat SKKD ini selain diundang dadakan, juga dari pagi jam 7 sampai jam 9 malam, dengan form-form yang ditambahkan ditengah tugas kita.
Diskusi paling hangat dari semua bidang adalah guru, yang merupakan sosok transfer keilmuan, jadi industri ingin A, anak harus bisa A, melalui mediator guru, tentu saja ada mediator lain yaitu diknas, disini adalah PSMK. jadi ada 2 layer birokrasi yang harus dilewati untuk membuat link and match menjadi sempurna.
Menurut mantan mendiknas pak rajiman, mengenai pentingnya link and match, dan juga saya pribadi yang ingin link and match menjadi sedemikan sempurnanya, sepertinya mirip dengan teori kesempurnaan. Sebab kita tahu gap itu pasti ada.
Tugas diknas dan sekolah membuat semua terstruktur menjadi sesuatu yang disebut kurikulum, saya melihat kurikulum ini malah mirip MPS (Master Production Scheduling) dari teori MPR, sebuah teori produksi, yang mana dilawan dengan teknologi Pull yang identik dengan Toyota, kata lain dari Just in Time.
Saya belum menemukan metode pull ala kanban ini didunia, dan saya mencoba membawanya ke area SKKD ini, sehingga JIT atau Zero Defect terjadi. sehingga link and match benar benar sempurna.
yah SKKD ini adalah impulision driver untuk menuju JIT education model. Walaupun kita jangan lupa ada Six Sigma, yang membuat 3 lapis filter, yang konon membuat kesempurnaan sampai 9.999%. mantap...
tapi ada 2 layer persepsi yang dicari, negara ini yang makin terselubungi kabut -contoh bank century-, dengan globalisasi yang makin cepat dan semua harus sama rasa sama berani sama gilanya.. dimana gap antara globalisasi dan negara ini semakin hari semakin jauh, indicatornya adalah kecantikan invesment yang turun, malah deindustralisasi.
Jadi banyak kan bottlenecknya, mulai dari guru yang menjadi mediator kebutuhan industri (yang dipercaya adalah salah satu faktor penghambat, diluar dari susahnya mencari guru loh -- diskusi dg pak alkaf adalah sulit mencari guru--), diknas yang merupakan bagian dari pemerintah yang sedang berkabut suram, serta lingkungan yang juga sedang suram seperti infrakstruktur rusak, regulasi tidak mendukung, deindustrialisasi. Melengkapi semua masalah link and match, yang mana semua ini sebenarnya simple, yaitu memberikan akses lebih besar ke siswa oleh industri, tetapi tentu saja tidak semaunya. Maklum industri itu identik dengan perang, dan kekacauan terjadi disana. Malah tidak sedikit yang dibayar dengan darah pemiliknya (kasus bunuh diri Laura dari Apartemennya). Biarpun perang sekarang lebih tidak fisik dibanding 50 tahun lalu, tetapi ini masih tetap perang. Sun Tzu sangat dominan disini.
So, solusinya gimana?



