Loading...

Yang Sering Dilakukan Siswa dan yang Sering Diabaikan oleh Pembimbing dalam Tugas Akhir

12:54AM Jan 16, 2012 in category Experience by Dian Aditya

Akhir Desember lalu saya berkesempatan untuk menjadi penguji eksternal (dari pihak industri) mewakili Meruvian di salah satu SMK swasta top di Kota Malang. Sangat istimewa karena kampung halaman saya berada di Kota Batu yang berdempetan dengan Malang, berasa seperti tiket mudik gratis dimana malamnya saya bisa ketemu teman-teman lama sambil ngopi bareng di pinggiran Jl. Diponegoro, bertemu hawa dingin dan pemandangan gunung di kiri kanan yang asri. #eaaa berasa makin lebay dan gak nyambung dengan judul.

Yap, setelah 2 hari mejeng di depan para siswa sebagai killer, disisi lain banyak diskusi menarik dengan para guru di setiap jeda dan seusai ujian mengenai kompetensi para siswa didiknya. Banyak point yang akhirnya disinggung, terutama masalah standart penyajian aplikasi seperti presentasi, pembuatan flow, DFD, ERD, laporan harcopy yang segepok dan banyak lagi hal-hal yang berbau teoritis yang menariknya belum pernah diajarkan sebelumnya kepada siswa, atau boleh juga dieja 'sudah diajarkan tapi sedikit', dimana point-point tersebut ada dalam lembar penilaian. Berbau menghakimi memang, yah tapi itu kenyataannya, dan saya yakin hal ini terjadi hampir di seluruh SMK (opini subjektif).

Maka dari itu sebagai rekanan industri yang baik #ceile disini saya akan membeberkan beberapa hal yang sering dilakukan siswa dalam tugas akhir yang menjadi point penilaian penguji yang sering luput dari bagian pengarahan pembimbing. Semoga dapat menjadi referensi untuk siswa SMK yang akan menghadapi tugas akhir agar tidak melakukan hal-hal di berikut.

Presentasi

Software: Siswa selalu update, jaman semakin berkembang, tidak salah kalau presentasi harus pakai barang canggih. Maka dipakailah software yang bernama MS Office dengan versi keluaran minimal tahun 2007 (yang kita semua tahu sebagian bersar pasti bajakan).

Estetika: Banyak gambar-gambar bertebaran di slide yang akhirnya berkesan kurang profesional. Ada yang full manga, ada yang suka warna biru sampai semua tulisan dikasih biru dengan backgroundnya laut (mana kelihatan), yang ngefans ayu tingting juga gak mau kalah gitu juga, gak lah.

ERD: Sebagian besar menggunakan entity-relationship model

sebagian kecil lainnya menggunakan object-relational model

Saya juga baru tahu kalau ERD ada macam-macam modelnya :) tetapi object-relational model yang paling lazim digunakan dalam pembuatan aplikasi, ini yang bikin heran kenapa sebagian besar pakai entity-relational model.

Detail teknologi: hampir semua hanya menulis, "Java Web + MySql", "PHP", atau "Java Web + XAMPP" (gak paham yang ini), tanpa dijelaskan secara detail pustaka apa saja yang digunakan, padahal untuk java pasti buanyak pustaka yang dicomot.

Pembatasan Kasus

Ini yang paling suka saya bahas, pengalaman saya juga sebagai siswa biasanya minim ide. Banyak ide yang dibuat seolah berbeda padahal isinya sama, seperti Aplikasi Toko, ada yang membuat Toko Bola online, Toko Musik onlie, dan toko-toko yang lainnya. Disinilah 'seharusnya' peran pembimbing untuk mengarahkan siswa dalam hal kreatifitas yang sering luput.

Ketuntasan aplikasi: ada cerita menarik ketika saya berhadapan dengan siswa yang membuat sebuah aplikasi pemesanan lapangan futsal online.

Siswa : (sambil mendemokan aplikasi) "Berikut ini adalah form pemesanan. User yang akan menyewa lapangan harus mengisi form disini."

Penguji : "Tidak ada register/login? Jadi orang tidak dikenal bisa langsung pesan?"

Siswa : "Mmmm, iya."

Penguji : "Oke silakan dilanjutkan."

Siswa : (Masuk halaman admin) "Kemudian orang yang pesan tadi datanya masuk ke halaman admin."

Penguji : "Kalau ada orang yang mau pesan di jam yang sama?"

Siswa : "Tidak bisa."

Penguji : "Untuk pembayarannya bagaimana?"

Siswa : "Ya... dibayar di tempat."

Penguji : "Kalau yang pesan tidak hadir di hari H?"

Siswa : (hening)

Penguji : "Kalau yang pesan gitu semua gimana hayo?"

Siswa : (hening)

Penguji : (pasang muka baik) "Kan seharusnya ada konfirmasi pembayaran, biar gak bangkrut usahanya."

Siswa : (meringis)

Penguji : "Jadi aplikasi kamu gak tuntas dong, mmm dikasih nilai berapa yah..."

Siswa : (mewek)

Sedikit percakapan diatas bisa menjadi sedikit gambaran bagaimana membuat aplikasi seharusnya tuntas, yah lagi-lagi peran pembimbing untuk melakukan check terhadap aplikasi siswa sebelum datang hari akhir (tugas akhir maksudnya).

Untuk sementara itu saja pengamatan saya tentang pelaksanaan tugas akhir kemarin, inti dari permasalahan yang saya angkat sebetulnya adalah kritikan untuk pembimbing sekolah yang terkadang (mohon maaf) kurang kejam untuk masalah lolos-meloloskan laporan akhir siswa, sehingga siswa seolah menjadi objek penyiksaan penguji eksternal, yang padahal memang sebetulnya aplikasinya belum layak untuk dijadikan tugas akhir. Tetapi terkadang malah diloloskan dengan alasan kasih sayang yang tanpa pandang bulu (opini subjektif). Masih banyak curahat yang belum sempat tersampaikan, mungkin lain kali bakal lebih panjang lagi bahasannya.

Semoga SMK makin maju. Salam "SMK Sakti Mandraguna, gak cuma bisa-bisaan..."


Cimande 2.0 RC, apa bedanya? (RESTFul #1)

12:46AM Oct 18, 2010 in category Experience by Dian Aditya

Setelah berjuang sekitar beberapa bulan terakhir, akhirnya hari ini Cimande v2.0 RC resmi dirilis. Sesuai dengan judul blog saya kali ini, Cimande 2? Apa bedanya dengan yang sudah-sudah? Pada versi terbaru ini Cimande 2.0 menggunakan arsitektur RESTFul web service. Salah satu arsitektur web yang beberapa tahun terakhir ini lagi hot-hotnya, dianggap sebagai arsitektur yang cool, sederhana dan paling ramah bagi user/aplikasi desktop maupun mobile secara umum. Juga sejalan dengan dengan trend baru Web 2.0 yang mulai menjauh dari SOAP dan beralih ke konsep REST.

Sedikit melenceng dari judul, pada bagian pertama ini saya belum akan membahas lebih detail mengenai teknis Cimande2, akan tetapi lebih ke konsep dan prinsip dari REST yang merupakan salah satu arsitektur yang digunakan oleh Cimande2 ini.

Berikut sedikit sejarah singkat tentang arsitektur REST :

Representational State Transfer (REST) merupakan arsitektur software untuk distribusi hypermedia diantaranya World Wide Web. Istilah Representational State Transfer pertama kali diperkenalkan dan didefinisikan pada tahun 2000 oleh Roy T Fielding pada disertasi doktoralnya. Fielding merupakan salah satu dari penggagas spesifikasi HTTP 1.0 dan 1.1.

Saya akan menjelaskan secara singkat mengenai beberapa prinsip dasar dari arsitektur REST, diantaranya:

  • Menggunakan HTTP dan HTTP Method secara tepat.
  • Semua tentang Resource dan URI
  • Stateless
  • Mendukung multiple representation.

 

Menggunakan HTTP dan HTTP Method secara tepat

Salah satu karakteristik dari RESTFul Web Service adalah menggunakan HTTP, protokol yang digunakan lebih dari 60% browser di seluruh muka bumi ini untuk mengakses server. Ini merupakan salah satu alasan mengapa trend Web 2.0 lebih cenderung menjauhi SOAP, salah satu kutipan yang pernah saya dengar ?Mengapa menggunakan protokol seperti SOAP bila setiap hari sebagian besar penduduk bumi menggunakan HTTP.?

Selanjutnya adalah penggunaan standard HTTP method diantaranya

  • POST untuk membuat sumberdaya (resource) pada server.
  • GET untuk menerima sumberdaya.
  • PUT untuk merubah atau memperbaharui sumberdaya; dan
  • DELETE untuk menghapus sumberdaya.

Menggunakan HTTP method secara tepat?

Berikut dua contoh penggunaan method yang berbeda dengan menghasilhan efek samping yang sama.

GET /hapususer?nama=dian HTTP/1.1

Ini sangat tidak dianjurkan karena method GET merupakan safe method yang seharusnya dalam penggunaannya tidak menghasilkan efek samping terhadap server. Dan berikut ini adalah contoh penggunaan HTTP method secara tepat.

DELETE /user/dian HTTP/1.1

Sebagai pedoman umum, diharapkan mengikuti pedoman REST untuk menggunakan HTTP method secara eksplisit dengan menggunakan kata benda dalam URI, bukan kata kerja.

 

Semua tentang Resource dan URI

Sumberdaya dapat berupa sebuah informasi maupun deskripsi dari sebuah item. Sebagai contoh blog entry ataupun blog author.

Setiap uri langsung merujuk kepada sumberdaya, tepat sasaran dan mudah ditebak. Bungung? Berikut beberapa contoh uri untuk mengakses blog entry saya:

http://blogs.mervpolis.com/roller/dwx/entry/hibernate_event_listener

http://blogs.mervpolis.com/roller/dwx/date/20101006

http://blogs.mervpolis.com/roller/dwx/category/Java

Contoh URI diatas merupakan contoh penggunaan directory structure-like URIs. Beberapa pedoman tambahan dalam penggunaan struktur URI pada RESTFul Web Service adalah sebagai berikut:

  • Sembunyikan ekstensi file pada server-side scripting (.asp, .php, .jsp), jika ada.
  • Menjaga agar tetap menggunakan lowercase.
  • Mengganti spasi dengan tanda hubung atau garis bawah.
  • Mencegah query string sebisa mungkin.

 

Cukup sekian untuk saat ini, poin ke 3 dan ke 4 selanjutnya akan saya jabarkan pada RESTFul bagian ke 2.

Meruvian Menyambut Idul Fitri 1431 H

10:56AM Sep 01, 2010 in category Experience by Dian Aditya

Hari ini merupakan hari ke dua saya di Meruvian Camp Depok dalam rangka kunjungan rutin. Menyenangkan ternyata walaupun saya sempat merasa sebagian dari mereka bakalan terusik dengan selembar checklist yang saya bawa :P Dan mulai dari kemarin malam hingga siang ini, merupakan moment yang cukup menarik menurut saya. Dimulai dari pemilihan kepala suku (setiap bulan ada kepala suku baru yang bertanggung jawab menjaga stabilitas nasional) hingga pagi ini sebelum kegiatan wajib dimulai. Sangat berkesan dimana pagi ini diadakan ritual semacam babat alas, mungkin yang satu ini lebih cocok disebut babat lumut atau mungkin sapu jogan. Apalah namanya, yang jelas ritual ini dilakuakan atas kesadaran semua penduduk Meruvian Depok untuk menyambut Hari kemenangan 1 Syawal 1431 H yang tinggal mengitung hari. Berikut beberapa foto ketika ritual sedang berlangsung.

 

Kepala suku baru sedang memberi contoh bagaimana cara merawat benda keramat yang paling sering dibutuhkan dalam keadaan darurat :D

Senyum itu ibadah lho?.

Ikutan nampang juga (ikutan bantuin maksudnya)

Sikat dan karbol, salah satu senjata yang ampuh untuk membasmi kuman

Dan akhirnya ritual diakhiri dengan pembersihan camp secara menyeluruh

Cukup kagum saya dengan kegiatan tersebut, dan memang inilah pelajaran yang terpenting diluar kompetensi mereka sebagai calon software developer (atau mungkin sudah) yaitu nilai kemandirian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Coding bakalan lebih tenang kalo tempatnya mendukung, betul gak?.

Yang Bikin Kita Susah Go Global

10:30AM Aug 11, 2010 in category Experience by Dian Aditya

Kemarin saya diajakin ikutan seminar joget workflow oleh Pak Frans di kawasan mega kuningan, sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya, seperti pembicaranya yang full english dan para peserta yang usianya jelas jauh di atas saya (mungkin memang saya peserta termuda di sana :D). Sangat terasa 'global'nya bagi saya, mungkin salah satunya karena acaranya diselenggarakan di kantor kedubes Malaysia (walaupun sempat dikejutkan dengan suguhan lemper, semoga tidak diklaim juga sebagai makanan khas mereka) yang mau tidak mau membuat saya harus membandingkan dukungan pemerintah Malaysia dengan pemerintah Indonesia (yang belum saya lihat, red) dalam hal produk opensource butatan dalam negeri.

Bukan bidang saya memang untuk menyinggung masalah-masalah beginian, namun disisi lain memang sedikit demi sedikit kita harus mulai merubah pola pikir kita sendiri yang sudah melekat sejak jaman penjajahan hingga sekarang. Yang mungkin mebuat kita susah untuk go global. Berikut beberapa hal yang sering saya perhatikan di sekitar lingkungan saya, bahkan saya sendiripun sempat mengalami.

"Kerja di luar kota? Jauh amat" kata-kata ini yang dulu sering saya dengar dari teman-teman seangkatan ketika saya memutuskan untuk berangkat ke Meruvian Jakarta sekitar 3 - 4 bulan yang lalu, persis setelah lulus dari SMK tercinta. Yah mungkin ini salah satu faktornya mengapa kita susah banget untuk bisa go global, sebagian dari mereka masih berfikir tinggal dekat dengan keluarga adalah prioritas yang tidak bisa di ganggu gugat. Dan inilah salah satu sifat yang harus dibuang jauh-jauh, mengapa? Ini petuah yang saya dapat dari Pak Frans, "Gimana bisa ke Australia atau keliling Eropa kalau ke luar kota yang masih di dalem negeri sendiri aja gak berani."

"Mending di sini aja, disana ada apan sih?" sebagian dari kita masih sangat nyaman tinggal di tempat asal, "kenapa musti susah-susah, mau makan sayur tinggal ambil di depan rumah, mau bebek tinggal ambil di belakang rumah" disaat Pinky and The Brain diluar sana sedang berusaha membuat hama untuk mengurangi populasi bebek di seluruh dunia untuk memuluskan rencana besar mereka menguasai dunia. Kemungkinan yang belum sempat tefikirkan hingga akhirnya produk-produk produk luar negeri masuk sebelum barang kita sempat go global.

Jadi, apakah kita masih akan memelihara sifat tersebut disaat negara lain mulai gencar mendobrak rumah yang kita pikir masih aman?